Awasi Penjualan Obat Secara Daring, BPOM Gandeng idEA dan Marketplace

Badan POM bekerja sama dengan asosiasi e-commerce untuk melakukan pengawasan pada penjualan obat dan makanan secara daring. Foto: Anisa Tri K

Oleh: Anisa Tri K

Indonesiainside.id, Jakarta – Di era digital seperti saat ini, tingginya penggunaan internet mempengaruhi gaya hidup masyarakat dalam membeli produk obat dan makanan. Banyaknya produsen yang menjual produk mereka melalui market place daring, dianggap lebih mudah dan mampu menjaring para pembeli. Disatu sisi, hal tersebut merupakan sisi positif untuk perkembangan usaha, terutama para pemilik usaha UMKM, disisi lain, tanpa regulasi dan pengawasan yang tepat, penjualan produk obat dan makanan bisa merugikan dan membahayakan konsumen.

Seperti yang disampaikan oleh Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito. Ia mengungkapkan bahwa peredaran produk obat dan makanan secara daring merupakan tantangan pengawasan yang saat ini sedang dihadapi Badan POM. “Penjualan Obat dan Makanan secara daring memiliki celah yang dapat dimanfaatkan oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mengedarkan produk ilegal,” ujarnya.

Menjawab tantangan tersebut, pada Kamis (17/09) Badan POM menggandeng Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) dan beberapa marketplace (Bukalapak, Tokopedia, Gojek, Grab, Klikdokter dan Halodoc) untuk bekerja sama melakukan pengawasan, pengiriman, dan iklan penjualan produk obat dan makanan yang beredar secara daring melalui penandatanganan kesepakatan bersama.

Kerja sama ini bertujuan untuk peningkatan daya saing bangsa melalui pembinaan bagi merchant, pelapak, atau mitra marketplace terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hal ini sejalan dengan program pemerintah untuk mendorong UMKM berjualan secara daring. “Diharapkan melalui kegiatan pembinaan UMKM ini dapat menghasilkan produk unggulan yang mampu berkompetisi baik di pasar domestik maupun internasional,” ujar Penny.

Marketplace sebagai sarana bisnis sekaligus sarana informasi juga bertanggung jawab dan bersama Badan POM terlibat mengawasi peredaran Obat dan Makanan secara daring,” ungkap Penny K. Lukito. “Saya percaya kita dapat berkomitmen dan bergerak bersama untuk memastikan masyarakat mendapatkan produk dan informasi yang benar dan tepat. Masyarakat dan konsumen yang cerdas menjadi benteng kekuatan melawan berbagai bentuk peredaran dan kejahatan obat dan makanan ilegal,” lanjutnya.

Dalam memperkuat pengawasan, Badan POM juga telah menyusun rancangan Peraturan Badan POM yang mengatur peredaran obat dan makanan secara daring. Peraturan ini mencakup aspek pencegahan dan penindakan dengan mekanisme business to consumer, yaitu pengawasan peredaran obat dan makanan secara daring dari pelaku usaha sampai produk tersebut diterima oleh konsumen, dengan tujuan memberikan perlindungan kepada mereka yang menggunakan produk yang dijual di toko online.

Dengan adanya peraturan atas peredaran obat dan makanan secara daring ini, akan mewajibkan para pemilik situs jual beli secara daring menyeleksi produk yang akan dijual dalam kanal mereka. Dalam rancangan aturan tersebut juga disebutkan bahwa jenis produk yang diatur peredarannya antara lain obat, obat tradisional, obat kuasi, suplemen kesehatan, kosmetik, dan pangan olahan. Khusus untuk obat, peredaran secara daring hanya dapat dilaksanakan oleh industri farmasi, pedagang besar farmasi, dan apotek.

Diharapkan, dengan kerja sama ini, para pelaku bisnis e-commerce lebih responsif dan kooperatif dalam menindaklanjuti rekomendasi hasil pengawasan Badan POM. “Adanya kerja sama ini diharapkan dapat semakin meningkatkan koordinasi, baik dalam upaya pemberantasan maupun pencegahan peredaran produk Obat dan Makanan yang tidak memenuhi ketentuan,” tutup Penny. (PS)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here