Tim Cyber Patrol BPOM Temukan Empat Ribu Lebih Situs Penjual Obat Ilegal

Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito. Foto: Anisa Tri K

Indonesiainside.id, Jakarta – Era industri 4.0 memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat dalam memperoleh berbagai bentuk produk obat dan makanan. Untuk memberikan pengawasan pada perkembangan di ranah penjualan era digital, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) guna mengawasi penjualan obat online yang diawasi langsung oleh pihak kepolisian.

Hal ini dilatarbelakangi hasil pengawasan Badan POM melalui Tim Cyber Patrol yang selama ini menemukan banyak produk obat dan makanan yang tidak memenuhi standar keamanan, manfaat, dan mutu yang diperjualbelikan melalui berbagai platform marketplace.

”Menurut hasil pengawasan kami, terhitung dari tahun 2018-2019, total ada 4.063 situs penjual obat ilegal, 3.580 diantaranya ditemukan di  Imarket place ,” ujar Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito saat ditemui di gedung Badan POM, Kamis (17/10).

Berdasarkan penemuan tersebut, Badan POM menandatangani kesepakatan bersama dengan idEA dan marketplace antara lain BukaLapak, Tokopedia, Gojek, Grab, Klikdokter, dan Halodoc untuk bersama-sama melakukan pengawasan terhadap peredaran, pengiriman, promosi dan iklan produk obat dan makanan, termasuk produk tembakau yang diedarkan melalui e-commerce. Penandatanganan Kesepakatan Bersama ini disaksikan oleh Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga, Kementerian Perdagangan RI, Veri Anggriono dan Plt. Sekretaris Utama Badan POM, Reri Indriani.

Ada tiga poin yang menjadi fokus dari Kesepakatan Bersama ini. Pertama, terkait dengan fasilitasi tindak lanjut pengawasan peredaran serta promosi produk obat dan makanan, serta produk tembakau melalui e-commerce. Kedua, fasilitasi untuk saling sharing informasi antara Badan POM dengan idEA dan pihak marketplace terkait dengan keamanan dan mutu produk obat, makanan, serta produk tembakau yang diperjualbelikan melalui e-commerce. Dan ketiga, untuk bersama melakukan kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat untuk dapat menjadi konsumen yang cerdas dalam menentukan produk yang akan dibeli melalui e-commerce.

“Badan POM selama ini telah memiliki sistem pengawasan terhadap peredaran obat dan makanan secara daring. Namun, dengan begitu maraknya marketplace yang dapat dengan mudah diakses masyarakat untuk dapatkan berbagai macam produk melalui e-commerce, tentunya Badan POM tidak dapat berjalan sendiri dalam melakukan pengawasan ini,” ucap Penny.

Penny menambahkan, marketplace merupakan garda terdepan yang diharapkan dapat menjaring produk-produk yang tidak memenuhi standar keamanan dan mutu agar jangan sampai beredar ke masyarakat melalui platform-nya. “Melalui Kesepakatan Bersama ini, kami berkomitmen untuk saling sharing informasi, sehingga dapat dilakukan langkah cepat jika diketahui adanya informasi ter-update terkait produk obat dan makanan yang beredar,” ujarnya.

Penny juga mengingatkan bahwa masyarakat merupakan benteng terdepan yang harus diperkuat dalam menghadapi era globalisasi saat ini, yaitu melalui pemberian KIE. Dengan begitu, masyarakat dapat menjadi konsumen cerdas yang mampu memilih secara bijak produk-produk yang aman untuk dikonsumsi melalui jejaring e-commerce. Karena fokus utama dari kerja sama ini adalah untuk memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM) agar Indonesia menjadi bangsa yang berdaya saing melalui produk-produk yang aman, bermanfaat, dan bermutu. (PS)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here