Kerusuhan Wamena Bukan SARA, Massa Terkoordinasi dari Delapan Penjuru Angin

kerusuhan wamena
Suasana ruangan Kantor Bupati Jayawijaya yang terbakar saat aksi unjuk rasa di Wamena, Jayawijaya, Papua, Kamis (26/9). Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menegaskan kerusuhan di Wamena, Papua, Senin (23/9), tidak berkaitan dengan isu suku, agama, ras, antargolongan (SARA). Pada kejadian itu, berbagai suku menjadi korban termasuk warga asli Papua.

“Ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan SARA,” kata Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik saat konferensi pers di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Jumat (18/10).

Komnas HAM telah melakukan kunjungan ke Papua selama beberapa hari, yakni 13-17 Oktober 2019 untuk menelusuri persoalan sebenarnya yang terjadi, termasuk situasi terkini. Kerusuhan yang mengakibatkan banyak toko dan fasilitas umum dibakar itu juga menimbulkan korban jiwa dari berbagai macam suku yang ada di Papua.

“Ada berbagai korban dari berbagai suku yang ada itu. Mau dibilang pendatang atau orang asli, sama-sama ada yang menjadi korban,” katanya.

Provokasi SARA memang ada. Menurut dia, seperti terakhir terjadi di Wamena yang dipicu adanya informasi seorang guru memberikan ungkapan rasis. Namun, setelah ditelusuri ternyata tidak terkonfirmasi.

Senada, komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara juga menyampaikan kerusuhan di Wamena, bukan konflik SARA, apalagi sampai genosida. Dia menyebut ini tragedi kemanusiaan.

“Kami ingin menegaskan bahwa apa yang terjadi di Wamena tanggal 23 September itu bukan konflik SARA, tetapi memang benar-benar tragedi kemanusiaan,” katanya.

Beka meminta kepolisian dan TNI menggunakan jaringan yang dimiliki untuk mencari tahu kronologi sebenarnya terjadinya kerusuhan Papua agar tidak ada lagi kronologis yang terlewat. Massa diduga kuat terkoordinasi dan menyerang dari semua arah.

“Kami meminta polisi mencari tahu bagaimana mobilisasi orang-orang ketika kerusuhan terjadi. Dari mana massa? Bagaimana koordinasinya? Karena mereka datang dari ‘delapan penjuru angin’, dari mana-mana,” katanya. (Aza/Ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here