Radikalisme Tumbuh karena Masalah Ekonomi Akut

Diskusi Forum Jurnalis Merah Putih di bilangan Cikini, Jakarta, Jumat (8/11). Foto: Ahmad ZR/Indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta – Pegiat antiradikalisme, Haidar Alwi menuturkan, radikalisme erat kaitannya dengan permasalahan ekonomi. Menurut dia, ketimpangan dan masalah ekonomi akut dapat memantik seseorang berbuat radikal.

“Radikalisme bisa tumbuh subur saat ekonomi turun,” kata Haidar dalam diskusi Forum Jurnalis Merah Putih di bilangan Cikini, Jakarta, Jumat (8/11).

Maka, lanjut dia, salah satu upaya pemerintah dalam melakukan kontra radikalisme adalah melalui peningkatkan kesejahteraan. Pemerintah dapat mengembangkan berbagai kini seperti pendidikan vokasi, memberikan akses dan layanan modal kepada masyarakat untuk dapat berkembang secara ekonomi.

“Pemerintah tidak perlu cara represif. Cara represif diperlukan jika mereka tetap (bersikukuh),” ujarnya.

Selain itu, politikus PDIP ini menyarankan agar pemerintah memerkuat basis keamanan siber. Menurut dia, gerakan radikalisme dalam konotasi negatif memiliki sistem sel, di mana satu sama lain saling terhubung.

“Karena mereka juga terus mengkampanyekan melalui media sosial,” katanya.

Pada kesempatan sama, putra ‘Bung Tomo’, Bambang Sulistomo meminta pemerintah melakukan redefinisi terhadap istilah radikalisme. Sehingga tidak ada polemik yang asal tuding seperti saat ini.

“Artinya, saya ingin radikalisme itu jelas fokusnya pada siapa. Sebab, kalau nanti Jokowi berganti, bisa saja yang berlawanan dengan pemerintah dianggap radikalisme,” katanya.

Bambang berpendapat, tidak salah juga jika saat ini ada ancaman ideologi impor karena lemahnya penguatan ideologi pancasila. “Saya yakin liberalisme, kapitalisme, dan marksisme masih ada dan itu akan terus berkembang kalau kita tidak mampu melindungi rakyat dengan adil,” ujarnya.

Ia menegaskan, keadilan adalah hakikat dari kehidupan manusia. Bahkan dalam pembukaan UUD 1945, kata keadilan dan kemerdekaan paling banyak disebutkan.

“Kapolri beberapa waktu lalu menyatakan bahwa yang dilawan bukan radikalisme Islam, tapi harus dijelaskan yang harus dilawan adalah radikalisme yang bertentangan dengan nilai keadilan, kemanusiaan dan ketuhanan,” kata Bambang. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here