Ini Makna Toleransi Menurut Lima Pemuka Agama

IRC Indonesia
Para pemuka agama yang tergabung dalam IRC Indonesia. Foto: Ahmad ZR

Indonesiainside.id, Jakarta – Sejumlah pemuka agama dari berbagai agama di Indonesia berkumpul dan menyampaikan pesan tentang toleransi untuk masyarakat Indonesia. Hal itu berkaitan dengan Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada tanggal 16 November.

Para pemuka agama yang tergabung dalam Inter Religious Council (IRC) Indonesia itu masing-masing memaknai arti toleransi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pertama, perwakilan agama Budha, Bhikkhu Indamedho, mengatakan bahwa sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara adalah toleransi. “Toleransi itu penting, sehingga selalu meningkatkan persaudaraan di mana pun kita berada,” kata Bhikkhu di bilangan Pejaten, Jakarta, Senin (18/11).

Kedua, perwakilan agama Konghucu Rudi Wijaya Gunawijaya menuturkan, toleransi harus diimplementasikan dalam kehidupan. “Kami dari umat Konghucu ingin menyampaikan bahwa toleransi jangan lagi menjadi slogan, tapi harus diwujudkan dalam perbuatan,” katanya.

Ketiga, perwakilan PGI, Jimmy Soraya menyatakan, toleransi bukanlah suatu yang niscaya. Dia adalah seuatu yang harus diperjuangkan. Perbedaan adalah suatu yang niscaya, maka diperlukan kedamaian dan toleransi.

Menurutnya, dalam situasi bangsa yang terseregasi oleh permasalahan politik dan ekonomi, sangat penting untuk kembali menguatkan semagat yang sudah ada dalam kehidupan sosial masyarakat. “Pertemuan dan kerjasama selama ini adalah bagian dari merawat toleransi yang seyogyanya tidak berputar pada hal ini saja, tapi juga di akar rumput,” ujarnya.

Keempat, perwakilan Katolik, Romo Heri Wibowo mengatakan, toleransi tidak saja berbicara mengenai persamaan. Toleransi juga semakin nampak ketika setiap individu bisa menghormati apa yang baik dalam agama dan kepercayaan pihak lain.

“Dengan demikian, toleransi mempercayai kehidupan beragama dan kehidupan yang inklusif serta harkat manusia yang bermartabat,” ucapnya.

Kelima, pendeta Jacky Manuputhy menceritakan, pada 2018, ia bersama Prof Din Syamsuddin yang saat itu menjadi ketua UKP-DKKAP, merumuskan berbagai isu bersama terkait kesepakatan kebangsaan. Salah satunya adalah toleransi.

“Bagaimana kita membangun toleransi yang diwujudkan dalam percakapan dan kerjasama untuk membangun kemanusiaan dan lingkungan,” kata dia.

Indonesia masih dapat dilihat sebagai poros percontohan sikap toleransi antar umat beragama, meskipun masih ada kasus-kasus yang menyangkut perbuatan intoleransi. Terbukti, hal itu disampaikan oleh tokoh agama internasional.

“Ketika kami mengunjungi Paus di Vatikan, mereka sangat besar berharap terhadap Indonesia sebagai etalase perdamaian dunia. Indonesia harus mampu menjaga toleransi melalui dialog dan kerjas sama lintas agama,” ujarnya. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here