Kemiskinan dan Keterbatasan Ilmu Agama Penyebab Radikalisme

Menag
Menag Fachrul Razi. Foto: Humas Kemenag

Indonesiainside.id, Jakarta – Menteri Agama Jenderal (Purn) Fachrul Razi memaparkan secara panjang lebar ciri-ciri paham radikalisme dan penyebab seseorang menjadi radikal.

Secara umum, ada dua hal yang mendorong seseorang menjadi radikal. Pertama karena faktor ekonomi atau kemiskinan. Kedua, karena keterbatasan pendidikan atau minimnya ilmu agama dalam memaknai sebuah ajaran.

Menag menyebutkan, secara teoritik banyak unsur yang bisa membentuk seseorang menjadi radikal atau ekstrem. Ada perspektif ekonomi di mana kemiskinan mendorong seseorang nekat melakukan tindakan-tindakan di luar pakem.

“Bisa juga minimnya pendidikan, bacaan yang terbatas dan pemahaman yang salah, yang mendorong seseorang menjadi radikal,” kata Fachrul saat membuka acara sarasehan Disbintalad di bilangan Matraman, Jakarta, Rabu (20/11).

Adapun dari perspektif agama bisa karena salah paham atau paham yang salah. Salah paham bisa jadi karena saat belajar agama tanpa guru yang hanya menelusuri dunia maya.

“Menafsir ayat tanpa guru memadai dan guru yang otoritatif sehingga menafsirkan ayat-ayat tentang perang di masa damai atau di negara keberagaman seperti Indonesia misalnya dan sebagainya,” katanya.

Menag juga mengurai ciri-ciri seseorang atau organisasi disebut sebagai kelompok radikal. Pertama, mereka merasa paling benar dan intoleran, tidak bisa menerima orang lain yang berbeda identitas dan pendapat.

“Padahal Allah SWT menegaskan bahwa ciptaannya dibuat dalam kondisi beragam. Dalam Alquran Surah Al Hujurat ayat 13 Allah berfirman, Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal,” katanya.

Fachrul menyatakan bahwa keberagaman atau kebhinnekaan adalah keniscayaan. Keberagaman pandangan juga keniscayaan dan tidak ada satu pun manusia yang berhak mengklaim bahwa dialah yang paling benar.

“Kebenaran hakiki hanya milik Allah,” ucapnya.

Kedua, ciri kelompok radikal, lanjut Menag, mereka memaksakan kehendak dengan berbagai cara. Mereka menghalalkan cara apa pun bahkan memanipulasi agama untuk mencapai keinginan duniawi.

Mereka yang radikal dianggap tak segan-segan menjustifikasi perilaku kriminalnya, melukai, atau membunuh orang misalnya dengan penafsiran ayat sekehendaknya.

“Padahal agama mana pun, ayat suci mana pun tak ada yang menyuruh kezaliman atas kemanusiaan apa lagi membunuh. Agama justeru menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan menjaga kehidupan yang aman dan damai,” katanya.

Ketiga, mereka yang radikal juga menggunakan cara-cara kekerasan, baik verbal maupun tindakan dalam mewujudkan apa yang diinginkannya.  Mereka tak segan melakukan ujaran kebencian atau menyampaikan berita bohong.

Sebagian dari mereka juga melakukan tindakan kekerasan fisik, mempersekusi kelompok lain, atau meledakkan diri di kerumunan orang banyak.

“Mereka menjadi radikal negatif yang harus kita tangani dengan tegas, tidak selalu berarti keras. Pertama-tama kita lakukan nasehat dengan baik,” katanya.

Jika tidak bisa, dialog atau diskusi dengan baik guna meluruskan kesalahpahaman konsepnya. Jika juga tidak mengena, ada kerangka hukum yang bisa menindak tegas sesuai kadar pelanggaran hukumnya.

“Misalnya dengan menerapkan Undang-undang Pidana dan atau Undang-undang Terorisme,” kata mantan Wakil Panglima TNI ini. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here