Survei PISA Sebut Kemampuan Membaca Siswa Indonesia di Bawah Rata-Rata

Muhammad Ramli Rahim.
Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim. Foto: ANTARA

Indonesiainside.id, Jakarta – Hasil PISA 2018 resmi dirilis oleh OECD di Paris, Perancis, pada Selasa (3/12). Dari data tersebut, menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam membaca meraih skor rata-rata yakni 371, jauh di bawah rata-rata OECD yakni 487. Untuk skor rata-rata matematika yakni 379, sedangkan skor rata-rata OECD 487. Selanjutnya untuk sains skor rata-rata siswa Indonesia yakni 389, sedangkan skor rata-rata OECD yakni 489.

Laporan OECD tersebut juga menunjukkan bahwa sedikit siswa Indonesia yang memiliki kemampuan tinggi dalam satu mata pelajaran, dan pada saat bersamaan sedikit juga siswa yang meraih tingkat kemahiran minimum dalam satu mata pelajaran.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia, Muhammad Ramli Rahim dalam keterangan tertulis mengatakan, Nadiem Makarim harus belajar dari berbagai kegagalan ini. “Jika ingin mengubah Indonesia dalam waktu cepat, Nadiem mau tidak mau harus membuat revolusi dalam bidang pendidikan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang didapat tim redaksi Indonesiainside.id, Selasa (3/12).

Ikatan Guru Indonesia (IGI) berpendapat, Nadiem harus mampu memainkan politik anggaran pendidikan dengan memprioritaskan anggaran pada ketersediaan guru Indonesia.

IGI mencatat, jumlah guru di Indonesia saat ini berjumlah 2.769.203 berdasarkan data dapodik, artinya jika guru Indonesia diberikan upah rata-rata Rp5 juta/bulan. Maka setiap bulan hanya membutuhkan Rp. 13 triliun atau hanya Rp. 166 triliun/tahun atau hanya 7,48% dari APBN.

“Mengapa pendapatan guru harus memadai? Karena tak mungkin membandingkan tanggung jawab guru Indonesia yang hanya diberi upah Rp100 ribu per bulan dengan negara lain di dunia,” tegasnya.

Menurut Ramli, anggaran pendidikan untuk kementerian lain diluar pendidikan harus dikembalikan ke pendidikan. “Nadiem harus punya keberanian untuk itu, jika tidak, jangan pernah berharap bangsa ini bisa maju seperti yang lainnya. Negeri ini tak boleh lagi membohongi rakyatnya seolah-olah anggaran pendidikan sudah 20% dari APBN dan 20% dari APBD,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ramli mengkritisi soal pola pelatihan guru dan kepala sekolah yang selama ini dijalankan UPT kemdikbud mesti dievaluasi karena cenderung membuang anggaran tanpa hasil yang jelas. Karena faktanya, pendidikan di Indonesia tak beranjak, minimal berdasarkan hasil dari PISA ini.

“Hasil PISA ini pun sesungguhnya tak jauh berbeda dari hasil AKSI yang dilakukan Kemdikbud, jadi tak perlu menyalahkan PISA, mari kembali melihat diri sendiri untuk berbenah untuk melompat lebih jauh jika berani,” lanjut Ramli.

IGI menilai, hasil PISA menjadi penting, karena melalui penilaian tersebut dapat mengukur sejauh mana siswa pada akhir pendidikan, dapat menerapkan apa yang dipelajarinya dalam kehidupan masyarakat.

PISA merupakan survei tiga tahunan yang menilai kemampuan siswa berusia 15 tahun, yang telah memperoleh pengetahuan dan keterampilan utama untuk berpartisipasi dalam masyarakat.

Penilaian tersebut fokus pada kemahiran membaca, matematika, sains, domain inovatif, dan kesejahteraan siswa. Untuk survei PISA 2018, domain inovatiberfokus pada kemahiran dalam membaca, matematika, sains dan domain inovatif. Untuk survei PISA 2018, domain inovatifnya adalah kompetensi global.

Hasil PISA juga memungkinkan pihak terkait untuk mengidentifikasi keberhasilan dalam bidang pendidikan dan pelajaran lainnya. Dengan demikian, hasil PISA dapat digunakan untuk intervensi pendidikan. (PS)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here