Tengku Zulkarnain Heran Kemenag Hapus Khilafah dan Perang dari Kurikulum

Tengku Zulkarnain. Foto: istimewa

Indonesiainside.id, Jakarta – Wakil Sekretaris Jenderal MUI, Tengku Zulkarnain, merasa heran dengan kebijakan Kementerian Agama (Kemenag) memerintahkan materi ujian di madrasah yang mengandung konten khilafah dan perang atau jihad ditarik dan diganti. Kebijakan tersebut sesuai ketentuan regulasi penilaian yang diatur pada SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 3751, Nomor 5162 dan Nomor 5161 Tahun 2018 tentang Juknis Penilaian Hasil Belajar pada MA, MTs, dan MI.

“Materi Pelajaran tentang Khilafah dan Perang dihapuskan dari buku pelajaran, dinilai tidak damai. Nanti kalau NKRI diserbu musuh rakyat diam saja makan/minum, mengungsi. Serahkan sama penguasa saja. Jika perlu serahkan negara kepada musuh, asal damai. Gitu?,” tulis Tengku Zulkarnain di laman resminya, Ahad (8/12).

Ustaz berdarah Melayu Deli dan Riau itu menegaskan bahwa seluruh negara di dunia mengajarkan perang dan pertahanan pada generasi muda mereka. Beberapa negara bahkan menerapkan wajib militer kepada para generasi muda.

“Apa mereka gila? Tidak cinta damai? Jangan karena takut jumpa jin malah terpeluk hantu. Rasional saja lah. Yang penting tanamkan cinta NKRI,” ucap dia menegaskan.

Dia menuturkan, efek dari kebijakan tersebut membuat generasi muda kehilangan jati diri bangsa dan tidak akan mengenal perjuangan lara pahlawan. Seperti pejuang kemerdekaan dari kalangan ulama di antaranya Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, dan lain sebagainya.

“Jangan-jangan nanti generasi berikut malah menuduh para Pahlawan Nasional Tukang Rusuh yang Tidak Cinta Damai,” ucap dia.

Sementara, direktur CIIA sekaligus Pengasuh Ponpes Tahfidz Qur’an Al Bayan, Harits Abu Ulya, mengaku sangat prihatin setengah tidak percaya dengan keputusan tersebut. Meski di beberapa media diungkap soal gagasan tersebut ada disinformasi.

Dia mengatakan tidak menemukan argumentasi kokoh normatif dan rasional yang menjadi pijakan gagasan Kemenag tersebut. Hal yang tampak adalah sikap “deffensif apologetic”, sebuah sikap produk dari nalar yang terpapar paham liberalisme dan pluralisme secara radikal.

“Jadi gagasan kemenag tidak punya pijakan normatifnya. Jika benar di laksanakan itu sama artinya kemenag menjadi bagian dari intrumen untuk merusak pemahaman umat Islam dan mengotori ajaran-ajaran Islam yang telah baku,” ujar Abu Ulya dikutip tulisannya ‘Rencana Kemenag Hapus Materi Perang dari Kurikulum Madrasah itu Lacut!’.

Dia menduga, orang-orang kemenag yang terlibat dalam proyek penghapusan kurikulum madrasah tersebut bukan orang muslim (kafir). Ini karena orang muslim pasti akan sangat hati-hati karena paham soal hukum seputar jihad (perang).

“Atau bisa jadi dari kalangan orang muslim hipokrit yang tersesat memuja liberalisme dan pluralisme secara radikal, mengemis pujian orang-orang diluar Islam dan mengais sekerat tulang dunia yang tidak pernah mengenyangkan,” ujarnya. (*/Dry)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here