Wamenag: Radikalisme Bisa Dipicu Masalah Ekonomi dan Kesenjangan Sosial

Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi (dua kiri) bersama dubes Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegabriel. Foto: Istimewa.

Indonesiainside.id, Jakarta – Wakil Menteri Agama RI, Zainut Tauhid Sa’adi menjelaskan, banyak faktor seseorang atau kelompok masyarakat menjadi radikal. Dia mengatakan agama tidak memonopoli menjadi penyebab utama seseorang menjadi radikal.

“Radikalisme juga bisa bersumber dari masalah ekonomi, politik, dan kesenjangan sosial,” kata Zainut melalui keterangannya dari Saudi, Sabtu (28/12).

Radikalisme bisa bermakna positif dan negatif tergantung pada konteks ruang dan waktu sebagai latar belakang penggunaan istilah tersebut. Dia menyebutkan, di antara pandangan radikal, misalnya pemahaman yang menganggap paham keagamaanya yang paling benar dan memandang paham dan praktik beragama orang lain salah dan sesat.

“Sikap mudah mengafirkan orang Islam dan berlebihan dalam beragama termasuk kedalam sikap radikal tersebut,” ujarnya.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, jelas Zainut, menolak konsep final Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika adalah bentuk sikap radikal.

Empat pilar kebangsaan ini, adalah kesepakatan yang dihasilkan oleh para tokoh pendiri bangsa pada saat awal pembentukan negara bangsa Indonesia yang tidak boleh diingkari dan harus menjadi fondasi hidup bersama.

“Karenanya, meskipun paham khilafah diakui oleh kalangan ulama sebagai ajaran Islam dan pernah ada dalam sejarah peradaban umat Islam, namun konsep tersebut tidak dapat diberlakukan di Indonesia,” katanya.

Hal itu karena bangsa Indonesia telah memiliki sebuah kesepakatan menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdasarkan Pancasila. Dalam praktiknya, negara Pancasila menjamin semua agama untuk hidup dan menjamin warga negaranya untuk menjalankan ajaran agama sesuai dengan keyakinannya.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here