Pencopotan Helmy Yahya karena Beli Hak Siar Liga Inggris?

Indonesiainside.id, Jakarta – Dewan Pengawas resmi mencopot Helmy Yahya dari jabatannya sebagai Direktur Utama TVRI. Pemberhentian itu secara efektif dimulai Kamis, 16 Januari 2020.

Ketua Dewan Pengawas LPP TVRI, Arief Hidayat Thamrin, mengatakan, keputusan itu diambil berdasarkan kewenangan Dewas dalam PP 13/2005 tentang LPP TVRI. Namun, sesuai aturan yang berlaku, Helmy Yahya diberi kesempatan untuk membela diri.

Surat pemberhentian itu dikirim Dewas kepada Helmy Yahya pada 4 Desember 2019. Helmy lalu menyampaikan surat pembelaan diri pada 18 Desember 2019. Namun, melalui sidang pleno Dewan Pengawas menyatakan tidak menerima jawaban Helmy Yahya.

“Karena Helmy Yahya tidak menjawab atau memberi penjelasan mengenai program siaran berbiaya besar antara lain Liga Inggris dari pelaksanaan tertib administrasi anggaran,” kata Arief di Jakarta, Jumat (17/1).

Dikutip AP, hak siar Liga Inggris di seluruh dunia naik delapan persen le 9,2 miliar poundsterling atau setara Rp164,4 triliun. Itu berlaku mulai 2019 hingga 2022.

Kemudian, alasan lain pemberhentian Helmy adalah Dewas menilai ada ketidaksesuaian antara pelaksanaan TVRI dengan RKA tahunan LPP TVRI 2019 yang ditetapkan Dewan Pengawas. Dewas juga menyoroti mutasi pejabat struktural yang tidak sesuai norma standar, prosedur, dan kriteria manajemen ASN.

Dewas juga menilai Helmy melanggar beberapa asas-asa Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB) cfm UU 30/2014 tentang administrasi Pemerintahan, yakni asas ketidakberpihakan, asa kecermatan, dan asas keterbukaan.

“Terutama berkenaan penunjukan/pengadaan kuis Siapa Berani,” ujar Arief.

Setelah pemberhentian, Dewas TVRI menunjuk Direktur Teknik LPP TVRI Supriyono menjadi Plt Dirut. Dewas juga menyurati Presiden Jokowi mengaji hal itu.

“Dewan Pengawas LPP TVRI sudah mengirimkan laporan kepada Presiden RI dan DPR,” ujar Arief.(EP)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here