Virus Corona Miliki Laju Mutasi Sangat Cepat

Ruangan isolasi pasien yang menderita penyakit pneumonia berat akibat terjangkit wabah virus corona (nCoV) di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi, Semarang, Jumat (24/1). Antara/Aji Styawan

Indonesiainside.id, Jakarta – Virus corona memiliki laju mutasi yang sangat cepat dibandingkan dengan jenis virus lain seperti double stranded DNA (dsDNA) virus.

Penyebaran virus itu secara global juga dapat terjadi dengan mudah dikarenakan mobilitas manusia yang tinggi. Jika tidak diantisipasi, kemunculan kejadian luar biasa dapat berlangsung cepat dan tidak terduga seperti yang terjadi di Wuhan, Cina.

“Sedangkan pada kasus terbaru, material genetik dari 2019-nCoV (virus corona yang muncul di Cina) merupakan rekombinasi dari material genetik virus yang berasal dari kelelawar dan ular,” kata Peneliti bidang mikrobiologi dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Umum (LIPI) Sugiyono Saputra dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (24/1).

Rekombinasi material genetik virus corona adalah gabungan antara bagian selubung virus dari coronavirus asal kelelawar yang dikenal dapat menginfeksi manusia dan dari material genetik coronavirus yang berasal dari ular.

Menurut Sugiyono, hipotesis tersebut diangkat berdasarkan data terbaru yang dipublikasikan pada Journal of Medical Virology. Hipotesis tersebut menjelaskan bahwa kode-kode protein atau material genetik virus corona yang muncul di Cina atau 2019-nCoV memiliki kesamaan dengan material genetik yang berasal dari ular.

Data tersebut diketahui setelah membandingkannya dengan lebih dari 200 jenis coronavirus dari berbagai hewan. Spesies ular tersebut adalah Bungarus multicinctus atau the many-banded krait dan Naja atra atau the Chinese cobra.

Sugiyono menuturkan selubung virus atau viral spike merupakan bagian yang akan menempel atau menginfeksi sel inangnya jika memiliki reseptor yang sesuai. “Mutasi bagian inilah yang menyebabkan coronavirus dari ular tersebut dapat menginvasi sel-sel pada saluran pernapasan manusia,” katanya.

Namun Sugiyono mengatakan masih diperlukan penelitian menyeluruh untuk menyimpulkan asal virus 2019-nCoV, yang merupakan bagian dari sub-kelompok kecil betacoronavirus. Itu bisa dilakukan melalui identifikasi di tempat kerja dan laboratorium.

“Para ilmuwan menduga bahwa mamalia adalah kandidat yang paling mungkin, seperti yang telah tervalidasi pada kasus SARS dan MERS sebelumnya,” tuturnya.

Beberapa jenis coronavirus dikenal dapat menyebabkan infeksi akut pada saluran pernapasan bagian atas maupun bawah pada manusia. Seperti Severe Acute Respiratory Syndrome-related Coronavirus (SARS-CoV) yang mengalami kejadian luar biasa di Tiongkok pada tahun 2002.

Kemudian, Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) yang mengalami kejadian luar biasa di Arab Saudi pada tahun 2012. Terakhir adalah virus corona yang diidentifikasi Organisasi Kesehatan Dunia dengan nama novel Coronavirus (2019-nCoV) yang laporan gejala awalnya terjadi di Wuhan, Tiongkok pada 31 Desember 2019.

“Penelitian menunjukkan ketiga jenis coronavirus yang bersifat mematikan terhadap manusia tersebut berasal dari kelelawar yang berperan sebagai perantara alaminya,” ujar Sugiyono.

Walaupun memungkinkan namun interaksi langsung antara kelelawar dengan manusia sangat jarang. Namun, virus tersebut dapat menginfeksi hewan lain sebagai perantara, dan hewan perantara tersebut yang lebih sering berinteraksi langsung dengan manusia.

Pada kasus SARS hewan perantaranya adalah mamalia kecil seperti kelelawar, musang, dan rakun. Pada kasus MERS hewan perantaranya adalah unta. (Aza/Ant)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here