Pemerintah Resmi Tutup Turis dari 8 Negara, Pekerja Hotel: Tanpa Mereka Bali Akan Mati

Tanah lot, Bali. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Pemerintah Indonesia resmi menangguhkan kebijakan visa kunjungan saat kedatangan, bebas visa kunjungan, dan bebas visa diplomatik/dinas mulai dini hari nanti. Kebijakan baru itu akan diberlakukan per jam 00.00 WIB dan akan diberlakukan selama satu bulan.

Dilansir dari Al-Jazeera, langkah ini dapat secara signifikan menutup industri pariwisata di Indonesia. Indonesia dianggap akan merasakan kepedihan ekonomi yang sama dengan kota-kota pariwisata dunia lainnya, seperti Roma, Singapura, Barcelona, dan tujuan-tujuan lain yang dulunya merupakan magnet bagi para wisatawan.

Begitu juga dengan Pulau Bali, dimana lebih dari tiga perempat menyumbang pertumbuhan ekonomi di sektor pariwisata Indonesia. Pembatasan dan penangguhan tersebut terbukti dapat menjadi bencana besar bagi Indonesia.

“Dari penelitian kami, kami tahu sekitar 80 persen dari PDB Bali didasarkan pada pariwisata,” kata Ross Taylor dari Universitas Monash Melbourne, Jumat(20/3).

Selama 15 tahun terakhir, kaum muda telah pindah ke daerah wisata untuk mencari pekerjaan, sementara pada saat yang sama, orang tua mereka menjual sawah mereka kepada pengembang. “Di sebagian besar negara Barat, dalam satu rumah tangga, mereka memiliki beberapa penyangga keuangan,” lanjutnya.

“Tetapi di Bali, kebanyakan orang hanya berpenghasilan beberapa ratus dolar sebulan. Mereka hidup dari hari ke hari atau bulan-ke-bulan. Jika mereka kehilangan pekerjaan, mereka tidak akan memiliki apa pun untuk jatuh kembali,” ungkap Ross.

“Tanpa turis, Bali akan mati,” kata salah satu pekerja hotel di Bali, Hasrat.

Selama beberapa minggu terakhir, Bali sempat bertahan dalam industri pariwisata ditengah penuruna global akibat pandemic virus corona. Pada bulan Januari, Bali tercatat mengalami peningkatan 3 persen dibanding dengan bulan yang sama tahun 2019. Ini menurut data dari Bandara Internasional Ngurah Rai Bali.

Namun, kedatangan turis asing di Bali turun 20 persen bulan lalu, menyusul larangan pada 5 Februari terhadap turis yang telah berada di China dalam 14 hari terakhir. Ketika Indonesia belum mengumumkan adanya kasus virus corona, 400.000 wisatawan dari Australia, Rusia, Korea Selatan, India, Jepang, dan lebih dari 100 negara lain masih mengunjungi Bali. Tercatat dalam 12 hari pertama bulan Maret, ada 114.000 wisatawan asing datang.

Para ekonom mengkhawatirkan 170.000 warga Bali. Seoran ekonom di Institut Pengembangan Ekonomi dan Keuangan di Jakarta, Ariyo Irhamna, mengatakan dampak pariwisata akan paling terasa pada orang miskin di Bali.

“Banyak orang akan kehilangan pekerjaan karena tidak akan ada turis,” katanya.

“Yang saya tahu adalah bahwa pemerintah pusat mungkin tidak dapat membantu mereka. Mereka berkonsentrasi pada insentif untuk investor dan komunitas bisnis,” tambah Ariyo.

Pemerintah akan secara resmi menutup turis yang dalam waktu 14 hari terakhir berkunjung ke Iran, Italia, Vatikan, Spanyol, Prancis, Jerman, Swiss, dan Inggris. Mereka juga tidak diperbolehkan untuk melakukan transit di Indonesia.(EP)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here