Bachtiar Nasir: Umat Islam Harus Teladani Cara Sahabat Nabi saat Hadapi Wabah

Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) di Masjid Az-Zikira, Bogor, Jumat (31/1). Foto: Mihajir/Indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta – Pimpinan AQL Islamic Center, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), menegaskan bahwa umat Islam harus melihat peristiwa pandemi Covid-19 ini dalam kacamata Islam. Sebab kemunculan virus yang mewabah bukan hal baru di muka bumi. Sejak ribuan tahun lalu, berbagai pandemi pernah mencekam bumi. Salah satunya, beberapa wabah virus pernah terjadi pada tahun 18 hijiriah atau pada masa kepemimpinan khalifah kedua, Umar bin Khattab. Ketika itu, terjadi wabah yang paling berat dalam sejarah umat Islam.

“Kita sebagai orang beriman melihat musibah ini sebagai ketetapan Allah untuk penduduk bumi,” kata UBN, hari Rabu (25/3).

Sekjen Mejelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) itu meminta masyarakat, terkhusus umat Islam, untuk meneladani cara para sahabat menghadapi pandemi virus. Sebab, peradaban manusia adalah etalase sejarah yang terus berulang. Alquran pun banyak menceritakan kisah-kisah masa lampau agar umat Islam, dan manusia secara keseluruhan, mengambil hikmah dari kejadian tersebut.

“Para sahabat itu kalau melihat peristiwa seperti ini lebih banyak melihat rahmat Allah,” ucap UBN. Dia lalu meminta masyarakat untuk meneladani sikap panglima pasukan Umar bin Khattab, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, saat virus merebak kala itu.

“Sebagaimana Abu Ubaidah, bahkan minta rahmat dari thaun ini, dan mereka wafat dalam keadaan terkena pandemi seperti ini. Jadi kita harus pertengahan juga melihatnya,” ucap dia.

Abu Ubaidah adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw yang meninggal dunia karena virus. Putra Umaimah binti Ghanam itu termasuk salah satu jajaran Ass-Sabiqun Al-Awwalun (orang yang pertama masuk Islam). Ia berasal dari kalangan Muhajirin yang ikut hijrah bersama Nabi ke Habasyah. Ia juga turut bertempur bersama Rasulullah Saw. di antara peperangan yang diikuti bersama Rasulullah adalah Perang Badr, Perang Uhud, dan Perang Khandaq.

Kendati menyandang status sebagai panglima, tapi Abu Ubaidah menghembuskan nafas terkahir bukan di medan perang. Ia meninggal dunia karena terserang wabah Amwas. Pengambilan nama pandemic itu berdasarkan kali pertama virus itu muncul, yakni di Kota Amwas, wilayah di barat Yerussalem, Palestina.

Wabah itu sangat cepat menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Syam yang kala itu dipimpin Abu Ubaidah. Kala itu Umar bin Khattab hendak mengunjungi Abu Ubaidah di Syam untuk meninjau kondisi rakyatnya, namum belum sampai rombongan khalifah sampau, Abu Ubaidah sudah menghampiri mereka terlebih dahulu.

Abu Ubaidah mengabarkan bahwa Syam tengah dilanda wabah. Mereka lalu berdiskusi apakah rombongan khalifah tetap melanjutan perjalanan atau tidak. Akhirnya, Umar bin Khattab dan rombongan memutuskan kembali ke Madinah. Sementara Abu Ubaidah memilih kembali ke daerah pimpinannya, Syam.

Di Syam, Abu Ubaidah terus blusukan mengunjungi masyarakat Syam dan menghibur mereka yang terinfeksi virus. Akibatnya, Abu Ubaidah ikut tersjangkit virus tersebut.

Abu Ubaidah akhirnya menutup usia pada tahun 18 H pada usia 58 tahun. Ia disalatkan oleh Muadz bin Jabal. Jenazah Abu Ubaidah dikuburkan Muadza, Amr bin Ash, dan Adh-Dhahal bin Qais. Berdasarkan keterangan Ath-Thabaqah karya Ibnu Saad, Abu Ubaidah dikebumikan di Amwas. Namun, dalam Ma’rifatu Sahabah, Abu Nuaim menyebutkan bahwa sahabat senior itu wafat di Urdun (daerah Syam, sekarang Yordania) dan dimakamkan di Baisan. (CK)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here