Kumpulkan Para Ilmuwan, Menristek Bentuk Konsorsium Covid-19

Bambang Brodjonegoro
Menteri Riset Teknologi dan Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro seusai Jumpa Pers di Gedung BPPT, Jakarta Pusat, Senin (27/1). Foto: Imanuddin Ramdhani /indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta – Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) membentuk Konsorsium Riset dan Inovasi untuk membantu mengatasi pandemi virus corona di tanah air. Sesuai fungsinya kelompok itu dinamakan Konsorsium Covid-19.

“Seluruh tim peneliti Kemenristek/BRIN sedang bekerja keras untuk membantu mencegah, mendeteksi, dan merespon secara sepat penyakit Covid-19 di antaranya dengan menemukan alat deteksi atau diagnosis, suplemen, obat, dan vaksin untuk pasien COVID-19. Ada target jangka pendek, menengah, dan panjang yang harus dicapai,” ujar Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang PS Brodjonegoro dalam video konferensi dengan media massa dari kediamannya di Jakarta, Kamis (26/3).

Sebagai lembaga negara yang diberikan mandat oleh Undang-Undang untuk menjalankan dan mengintegrasikan kegiatan litbangjirap di Indonesia, Kemenristek/BRIN menetapkan tiga prioritas kegiatan litbangjirap yang akan dilaksanakan oleh Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19.

Prioritas yang pertama adalah prioritas jangka pendek yang berfokus pada penelitian dan kajian sistematik (systematic review) terhadap berbagai aspek dari Covid-19. Termasuk di dalamnya penelitian terkait tanaman herbal yang berpotensi untuk mencegah Covid-19, seperti jahe merah, meniran, sambiloto, echinaceae, temu lawak, lada hitam, serai, kunyit, kayu manis, seledri, cengkeh, kulit manggis, daun kelor, kulit jeruk, dan jambu biji.

“Penelitian terhadap jambu biji sudah memiliki hasil yang potensial untuk dilanjutkan pada uji klinis,” terangnya.

Bambang menu bahwa prioritas jangka pendek juga mencakup pengembangan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker, hand sanitizer, sterilization chamber (tenda sterilisasi coronavirus) serta pengkajian terhadap sediaan bahan alami sebagai peningkat imun tubuh untuk mencegah Covid-19.

“Penelitian juga perlu dilakukan terhadap aspek sosial humaniora, termasuk ketahanan (resiliensi) dan perilaku masyarakat, perbandingan kebijakan dan manajemen Covid-19 di negara lain, analisis ekonomi makro dan mikro di Indonesia terkait Covid-19,” tuturnya.

Beberapa kajian lagi, lanjut Bambang, juga mencakup berbagai isu terkait Covid-19 di media sosial, public health modelling, serta proyeksi dan prediksi grafik dan peta spasial dari penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Prioritas kedua dari Konsorsium Covid-19 adalah prioritas jangka menengah yang berfokus pada pengembangan dan pengkajian Rapid Test Kit untuk Covid-19 baik untuk deteksi awal (early detection) maupun deteksi akhir (late detection), pengembangan suplemen, multivitamin, dan immune modulator dari berbagai tanaman Indonesia.

“Salah satunya jambu biji, pengembangan robot layanan (service robot) untuk ruangan dengan infeksi coronavirus yang tinggi, smart infusion pump untuk memasukkan obat dalam tubuh pasien Covid-19 serta pengembangan lainnya,” katanya.

Terakhir, adalah prioritas jangka panjang yang berfokus pada pengkajian dan pengembangan obat dan vaksin, termasuk avigan, chloroquin, kina, dan sebagainya.

“Target jangka pendek (quick win), menengah, dan panjang tersebut akan dicapai oleh tim Konsorsium Covid-19 dengan pendanaan khusus dalam koordinasi Kemenristek/BRIN dengan beberapa lembaga negara non kementerian (LPNK), perguruan tinggi, dan industri yang nanti akan tergabung dalam tim tersebut,” jelasnya.(EP)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here