DPR: Menkeu Jangan Lilit Indonesia dengan Utang ke IMF atau Buka Rekening Donasi

Ilustrasi. Foto: Ueronews

Indonesiainside.id, Jakarta – Anggota Komisi XI DPR, Heri Gunawan menegaskan, menguatnya rupiah pada Kamis (26/3) bukan serta merta karena dampak kebijakan dalam negeri, namun imbas kebijakan Amerika Serikat (AS) yang menggelontorkan stimulus bantuan finansial 2 triliun dolar AS atau sekitar Rp32.800 triliun. Sementara stimulus Indonesia senilai Rp158,2 triliun belum direspons positif oleh pasar.

“Menteri keuangan (menkeu) tidak perlu menjerumuskan Indonesia dalam lilitan IMF (International Monetary Fund) atau World Bank. Bahkan Menteri Keuangan tidak perlu membuka rekening khusus untuk menampung sumbangan dari dunia usaha,” kata Heri di Jakarta, Jumat (27/3).

Heri menjelaskan, langkah heroik yang ditempuh AS berbanding terbalik dengan yang terjadi di Indonesia. Menghadapi corona ternyata membuat Menteri Keuangan Terbaik di dunia Sri Mulyani kalang kabut, bahkan terkesan ada aji mumpung memanfaatkan momentum corona untuk meminjam ke IMF dan Bank Dunia.

Sementara, kata Heri, IMF telah menyiapkan dana Rp1 triliun dollar AS untuk negara-negara anggotanya yang menghadapi virus corona. Adapun Bank Dunia menyiapkan dana 14 miiliar dolla AS untuk paket pembiayaan jalur cepat bagi negara yang juga menghadapi pandemi global itu.

“Langkah Sri Mulyani yang akan meminjam ke IMF dan Bank Dunia sangat membahayakan Indonesia. IMF terbukti telah mengintervensi kebijakan ekonomi Indonesia saat memberi pinjaman untuk mengatasi krisis ekonomi 1997/1998,” ujarnya.

Resep ala IMF, jelas dia, semakin menjerumuskan Indonesia pada jurang keterpurukan yang makin dalam. Sejatinya bila tanpa IMF dampak krisis ekonomi 1997/1998 diprediksi hanya menyebabkan pertumbuhan ekonomi turun ke level 0 persen, tetapi karena mengikuti resep IMF pertumbuhan ekonomi Indonesia ambles hingga minus 13,6 persen.

“Akankah kesalahan tersebut mau diulang kembali? Hanya keledai yang terperosok ke dalam lubang yang sama,” ujarnya.

Dia mewanti-wanti Menteri Keuangan Indonesia jangan dulu menggunakan bantuan IMF dan World Bank untuk menanggulangi covid-19. Karena Indonesia pada tahap tidak bergantung IMF dan World Bank.

“Ini menjadi kunci kemandirian dan tidak terjebak pada bantuan IMF dan World Bank yang sering mengikat pada kebijakan dan policy ekonomi dan politik Indonesia,” katanya.

Dia mengingatkan bahwa Indonesia sudah berutang sebesar 300 juta USD ke Bank Dunia untuk reformasi sektor keuangan dalam menjaga pertumbuhan untuk membuka peluang ekonomi baru. Disamarkan dari permasalahan akibat Covid-19.

“Kalau ditanya uangnya dari mana? Sejatinya, ada beberapa solusi sumber pendanaan dalam negeri yang bisa dimanfaatkan. Diantaranya Sisa Anggaran Tahun Lalu (SAL), akumulasi dari Sisa Anggaran Tahun Sebelumnya (SILPA) dan anggaran yang selama ini disishkan oleh pemerintah sebagai dana abadi (endowment fund) untuk keperluan cadangan yang diinvestasikan di Surat Utang Negara,” katanya.

Termasuk dana APBN yang ada BA99 yang selama ini dikelola oleh Menteri Keuangan Sebagai Bendahar Umum Negara. Bahkan kalau perlu pemerintah bisa meminjam sebagian dana simpanan milik Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mencapai lebih 150 triliun sebagai cadangan darurat oleh negara untuk keperluan mendadak karena uang tersebut tersedia dan sangat siap untuk dipinjam negara bila perlu karena posisi dana nya memang tidak sedang digunakan.

“Ada cadangan devisa Indonesia yang dikelola oleh Bank Indonesia sekitar 130 billion USD atau setara dengan lebih 2.000 triliun rupiah bila kurs saat ini 16.800 rupiah per US dollar. Karena Bank Indonesia tidak sepenuhnya menggunakan cadangan devisa untuk operasi moneter menjaga stabilitas nilai tukar rupiah saja seperti saat ini, sehingga operasi moneter nya lebih terimbang untuk yang lain lebih urgent,” jelasnya.

Pemerintah, kata Heri, cukup dengan menerbitkan open end Surat Utang Negara (SUN) yang khusus dibeli oleh Bank Sentral dan meminta Bank Indonesia membeli SUN tersebut dengan asumsi bunga dibawah 5 persen. Jika pemerintah menerbitkan SUN senilai 20 billion USD akan setara dengan 336 triliun rupiah.

“Kebijakan seperti ini harus diambil karena kalau kita menerbitkan global bond disaat pasar global sedang terimbas Covid-19 maka imbal balik atau rate return SUN yang diterbitkan oleh Indonesia akan sangat mahal biayanya,” katanya.

Sebab, ini adalah kesempatan bagi fund manager asing untuk memeras institusi negara yang sedang membutuhkan uang disaat mereka butuh likuiditas dalam jangka pendek mengatasi kebutuhan belanja negara yang mendesak. Dana-dana tersebut sudah lebih dari cukup untuk mengatasi corona.

“Para pengusaha jangan dibebani lagi dengan sumbangan karena saat ini pun para pengusaha sedang berjibaku menyelamatkan usahanya dari dampak corona,” katanya.

Disamping kebijakan tersebut, dia mengusulkan kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani agar segera melakukan penjajakan kepada negara negara donor untuk di negosiasi guna menunda dulu pembayaran utang. Menurut dia, ini berbeda konteknya, ini bukan ketidakmampuan bayar.

“Ini karena ada hajat kemanusiaan yang lebih penting, atau mungkin Menkeu takut Indonesia masuk kategori negara terbelakang lagi, yang dulu dijuluki HIPC (high indebted poor country). Nanti predikat Menkeu terbaiknya dicopot,” katanya.

Sejak diumumkan pada 2 Maret 2020 lalu, korban corona terus menanjak naik. Makin ganasnya corona telah menyebabkan perekonomian limbung.

Dua indikator utama yaitu nilai tukar rupiah dan indeks IHSG turun drastis. Otoritas fiskal dan moneter gagap mengatasinya.

Rupiah menjadi mata uang yang melemah cukup parah. Sebagai perbandingan, nilai tukar rupiah pada 2 Maret 2020 masih bertengger di Rp14.318 per dolar AS. Namun, pada 26 Maret 2020 sudah turun menjadi Rp16.305 per dolar AS.

Nilai ini sebenarnya masih lebih baik dibanding kejatuhan terdalam pada 24 Maret 2020 yang mencapai Rp16.575 per dolar AS. Sepanjang tahun ini, nilai tukar rupiah sudah anjlok 19,35 persen. Mengingat pada 31 Desember 2019 lalu, rupiah masih tenang di posisi Rp13.866 per dolar AS. (MSH)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here