Ganggu Pernafasan, Warga Diminta Tidak Gunakan Bilik Desinfektan

Ruang desinfektan bagi penumpang dan barang yang berada di pintu masuk Bandar Udara APT Pranoto Samarinda.

Indonesiainside.id, Samarinda – Banyaknya warga yang menggunakan bilik desinfektan (desinfectan chamber) membuat keprihatinan tersendiri. Bagaimana tidak, penyemprotan cairan pembunuh patogen ini dikabarkan dapat membuat iritasi kulit dan pernapasan.

Kepala Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto (APT Pranoto Samarinda) Dodi Dharma Cahyadi sempat gusar dengan adanya Surat Edaran dari Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, tentang penggunaan bilik desinfektan dalam rangka pencegahan Covid-19.

“Kami juga mendapat surat edaran tersebut. Kami masih pertimbangkan untuk menghentikan penyemprotan ini. Tapi ini kan anjuran yah bukan larangan,” ujarnya balik bertanya saat dihubungi via aplikasi whats app, Sabtu sore (4/4).

Menurut Dodi, Bandara APT Pranoto telah menggunakan bilik desinfektan sejak sepekan lalu. Tujuannya memang untuk menekan dan memutus rantai penyebaran Covid-19 yang dibawa oleh penumpang melalui pakaian dan barang bawaan.

Pihaknya akan mempertimbangkan tetap menggunakan bilik desinfektan dengan menggunakan bahan-bahan non alkohol alias bahan herbal yang tidak membuat iritasi pada kulit dan pernapasan. Opsi lainnya kemungkinan akan melakukan penyemprotan hanya pada barang bawaan penumpang saja.

Sementara itu Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, Andi Muhammad Ishak membenarkan jika bilik desinfektan dapat membuat iritasi kulit dan pernapasan, juga bersifat karsinogen yang dapat memicu tumbuhnya sel kanker.

“Disinfektan ini kan hanya diperuntukkan bagi benda saja. Bukan pada makhluk hidup ataupun tubuh manusia. Apalagi jika bahan yang digunakan tidak ramah pada tubuh manusia,” ujarnya pada kesempatan terpisah, Sabtu sore (4/4).

Menurutnya bilik desinfektan yang berada di lingkungan perumahan warga dan tempat-tempat yang tidak seharusnya digunakan, sebaiknya dibongkar saja. Selain membahayakan bagi tubuh seseorang, bilik desinfektan ini terkadan dipasang secara swadaya dan tanpa koordinasi dinas kesehatan setempat.

Seperti dalam Surat Edaran Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes yang ditandatangani oleh Dirjen Kesehatan Masyarakat dr Kirana Pritasari, MQIH dinyatakan tidak dianjurkan digunakan di tempat dan fasilitas umum serta pemukiman.

Dirjen Kesehatan Masyarakat lebih menekankan warga untuk mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, membersihkan permukaan barang yang mudah disentuh semua orang, menghindari kerumunan dan menjaga jarak serta menggunakan masker jika harus ke luar rumah.(YAN)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here