Mantan Menkes Siti Fadilah: Alat PCR Buatan Amerika Tidak Cocok Digunakan di Indonesia

Siti Fadilah, Foto: Tangkapan Layar

Indonesiainside.id, Jakarta – Mantan Menteri Kesehatan periode 2004-2009, Siti Fadilah Supari menyebut, bahwa tes virus corona jenis baru atau Covid-19 yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dinilai tidak efektif. Sebab, alat yang dipesan dari luar negeri itu, kata dia, dianggapnya kurang cocok untuk dilakukan di Indonesia.

Menurut Mantan anggota Dewan Pertimbangan ini, alat tes virus corona seperti PCR (Polymerase Chain Reaction) memiliki primer atau paramenternya sendiri di setiap negara. Paramenter itu, kata Siti, biasanya berada dalam suatu virus, termasuk virus corona jenis baru atau Covid-19.

“Jadi gini, pada waktu PCR itu kan ada primernya, yaitu suatu parameter di dalamnya ada plasmid nanti kalau spesimen kita cocok dengan dia, nah berarti virusnya itu ada yang sesuai dengan plasma. Tapi kita saat ini beli dari luar semua, kita beli dari Amerika waktu itu kan menteri kesehatan bilang ‘kita beli semua kok dari Amerika’. Padahal virus yang ada di Indonesia berada dengan virus di Amerika,” kata Siti dalam wawancara eksklusive di channel YouTube Deddy Corbuzeir, Kamis (21/05).

Dengan parameter tersebut, kata Siti, alat tes PCR yang diambil dari Amerika itu kemungkinan tidak bakalan cocok jika digunakan di Indonesia, karena perbedaan paramenter antar negara. Sehingga, efeknya pun akan terlihat dari hasil tes yang sering tidak sinkron.

“Makanya ada yang positif ada negatif meskipun itu PCR. Kalau PCR kuncinya itu ada di primernya dari plasma yang berasal dari suatu virus. Nah virus dia kenal gak dengan virus kita? Ada yang kenal ada yang tidak gitu. Tidak semua kenal dengan plasmidnya primer ini,” ujar dia.

“Ya kurang pas lah, kurang tepat. Ya pasnya pakai alat kita sendiri berbasis virus kita sendiri. Kita punya banyak ahli yang pinter-pinter, cuma butuh political will, dana,” lanjut dia.

Siti menambahkan, bahwa di Indonesia sendiri memiliki banyak para ahli kesehatan. Namun, penelitian yang dilakukannya, kata dia, dinilai masih sangat kecil.

“Fokuskan sekarang dana untuk research itu dan selama ini research selalu dapat dana yang kecil kemudian mengharapkan bantuan dari asing. Bantuan dari asing itu menggetarkan, menggoyahkan hati,” ujar dia. (SD)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here