Daerah Minim Penduduk Pun Berisiko Tinggi Kasus Covid-19

Petugas medis dengan memakai alat pelindung diri memperlihatkan alat rapid test Covid-19 di Pelabuhan Bandar Sri Junjungan Dumai, Riau, Jumat (3/4/2020). Foto: Antara/Aswaddy Hamid

Indonesiainside.id, Jakarta – Salah satu faktor penentu penyebaran Covid-19 yang adalah keterpaparan eksternal. Artinya, penularan akibat warga yang datang dari luar suatu daerah.

Peneliti IDEAS, Fajri Azhari mengatakan, dengan faktor tersebut, daerah yang minim penduduk pun sebenarnya tetap memiliki risiko tinggi penyebaran Covid-19. Ia membagi keterpaparan eksternal dengan dua variabel, yaitu ukuran sektor pariwisata dan kekayaan sumber daya alam.

“Arus masuk pelancong dan pendatang yang tinggi, lintas daerah dan bahkan lintas negara, membuat suatu daerah rentan menjadi klaster penyebaran Covid-19,” katanya, Selasa (16/6).

Dia menjelaskan, daerah dengan ukuran sektor pariwisata yang besar, diukur dari pangsa tenaga kerja yang bekerja di sektor akomodasi dan penyediaan makan-minuman. Biasanya didominasi oleh daerah-daerah di destinasi wisata utama nasional, seperti Bali dan Yogyakarta.

Serupa dengan daerah wisata, daerah dengan kekayaan SDA yang berlimpah cenderung menarik investasi dari luar daerah. Artinya, tenaga kerja luar wilayah, bahkan tenaga kerja asing juga banyak yang wara-wiri di wilayah itu.

Daerah kaya SDA ini didominasi oleh daerah sentra tambang migas dan batu bara seperti Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Papua.

“Inilah sebab banyak daerah di luar Jawa meski memiliki kepadatan penduduk yang rendah, tetapi memiliki resiko penyebaran Covid-19 yang tinggi,” tuturnya.

Dia mencontohkan, kabupaten Mimika dimana PT Freeport berlokasi, tercatat menjadi episentrum wabah di Papua Barat. Kota Denpasar yang merupakan gerbang Bali sebagai destinasi wisata dunia, menjadi episentrum wabah di Bali.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here