Tak Ada Toleransi, KSPI Minta TKA Cina Dipulangkan

Ketua KSPI Said Iqbal. foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, meminta pemerintah memulangkan kembali tenaga kerja asing (TKA) asal Cina. Pasalnya, kedatangan TKA Cina di tengah pandemi Covid-19 dan jutaan masyarakat Indonesia kehilangan pekerjaan.

Menurut dia, kedatangan TKA Cina menciderai rasa keadilan pekerja lokal dan rakyat Indonesia. Seharusnya, kata dia, lapangan pekerjaan yang tersedia diberikan kepada anak-anak bangsa yang saat ini tengah kesusahan mencari pekerjaan

Dia tidak sependapat dengan pemerintah jika alasan memasukkan TKA Cina adalah keahlian. Ini karena PT Virtue Dragon Nickel Industry sendiri sudah cukup lama ada di Konawe, Sulawesi Tenggara.

“Itu artinya selama ini perusahaan dan pemerintah gagal memenuhi persyaratan bahwa TKA yang bekerja di Indonesia harus tenaga ahli dan melakukan transfer of khowledge dan transfer of job,” kata Said Iqbal.

Said Iqbal menuturkan, dalam UU No 13 Tahun 2003 sudah diamanatkan, setiap 1 orang TKA wajib ada pendamping 10 orang pekerja lokal. Apabila selama ini TKA yang bekerja di sana ada pendamping tenaga kerja lokal dan terjadi transfer pengetahuan, maka pekerjaan yang ada seharusnya sudah bisa dikerjakan tenaga kerja lokal.

Dengan aturan tersebut, maka seharusnya pemerintah tidak perlu lagi mendatangkan TKA. Bagi Said Iqbal, hal itu merupakan pelanggaran terhadap ketentuan hukum yang mengatur mengenai penggunaan tenaga kerja asing.

“Pelanggaran yang lain, seharus TKA bisa berbahasa Indonesia. Karena tidak bisa berbahasa Indonesia, hal ini akan menyulitkan dalam berkomunikasi, dalam rangka melakukan transfer of knowledge tadi,” ujar dia.

Terlebih lagi, kata dia, Indonesia memiliki universitas yang diakui dunia, seperti Universitas Indonesia hingga Institut Teknologi Bandung (ITB). Lulusan-lulusan universitas itu pasti memenuhi skill yang dibutuhkan di sana.

Oleh karena itu, Said Iqbal meminta pemerintah menarik kembali TKA yang sudah datang dalam gelombang pertama, serta membatalkan masuknya 500 TKA China. Apalagi mahasiswa dan masyarakat sudah melakukan protes terkait masuknya TKA tersebut.

“Di tengah pandemi dan banyak buruh yang kehilangan pekerjaan, mengapa TKA justru diizinkan bekerja di Indonesia? Bukankah akan lebih baik jika pekerjaan tersebut diberikan untuk rakyat kita sendiri,” ucap dia. (ASF)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here