Jokowi Unggah Video Marah-Marah, Fadli Zon: Ekspresi Frustasi Hadapi Pandemi

Fadli Zon
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra, Fadli Zon, di Gedung DPR, Jakarta, Senin (20/1). Foto: Muhajir/ Indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta –  Anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Fadli Zon, mengaku prhatin dengan pidato kemarahan Presiden di hadapan para menteri dan beberapa pimpinan lembaga tinggi negara. Kemarahan itu sebenarnya disampaikan pada pembukaan sidang kabinet paripurna di Istana Negara, 18 Juni 2020 lalu. Namun, rekamannya baru diunggah oleh Sekretariat Presiden pada 28 Juni 2020.

Fadli menyebut dua sumber keprihatinan atas kemarahan Jokowi itu. Pertama, Jokowi tak mengerti adab seorang pemimpin. Sebagai pemimpin, Jokowi seharusya bertanggung jawab atas kesalahan anak buahnya.

“Dengan mengumbar pidato marah-marah tersebut, Presiden bukan hanya telah mempermalukan anak buahnya, tapi juga sedang mempermalukan dirinya sendiri sebagai pemimpin,” ucap Fadli di Jakarta, Rabu (1/7).

Menurut Fadli, jika Jokowi menyebut menterinya tidak maksimal bekerja, sementara presiden sendiri tidak melakukan langkah apapun untuk menghentukan atau memutus ketidakbecusan itu, secara tak langsung Presiden sedang menunjukkan ketidakcakapannya dalam memilih, mengelola, serta mengontrol kinerja para menteri.

“Apalagi, sejak awal Presiden sudah menegaskan tidak ada yang disebut visi/misi menteri, yang ada hanyalah visi/misi Presiden. Artinya, semua menteri seharusnya berada di bawah pengawasan dan kendalinya,” ucap dia.

Keprihatinan kedua, dalam prinsip dasar kepemimpinan, mengkritik, menegur, atau memarahi anak buah di muka publik bukan sebuah tindakan yang patut. Pemimpin memang boleh menegur, bahkan hingga sekeras-kerasnya pada anak buah, atau memarahi mereka sekasar-kasarnya, namun semua itu seharusnya dilakukan di ruang tertutup.

“Kenapa isu adab kepemimpinan ini perlu kita anggap penting, karena kunci utama menghadapi dan menangani krisis adalah kepemimpinan. Hanya pemimpin cakap yang akan bisa membawa sebuah negara keluar dari krisis dan pandemi,” ucap Fadli.

Menurut Fadli, kemarahan dalam rapat paripurna kabinet itu merupakan ekspresi rasa frustrasi Presiden dalam menghadapi situasi krisis saat ini. Tapi kemarahan itu tidak ada gunanya buat rakyat, kecuali hanya bagi pribadi Presiden.

“Ketika Presiden mengeluhkan tak adanya langkah ‘extraordinary’ dalam mengatasi krisis, atau menganggap anggota kabinetnya tidak memiliki ‘sense of crises’, maka persoalan itu bukan hanya ada pada satu-dua orang menteri saja, namun melekat pada seluruh pemerintahannya. Sebab, dengan ataupun tanpa Covid-19, sejak awal pemerintahan ini selalu menyangkal bakal datangnya krisis,” ucap Fadli. (Msh)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here