Jumlah Kasus Covid-19 Melonjak tapi Gugus Tugas Bilang Menurun, Kok Bisa?

Petugas Kesehatan di Kota Depok mengambil sampel darah pengguna kendaraan saat tes cepat (rapid test) Covid-19 dengan sistem drive thru di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Ahad (29/3/2020). Foto: Antara/Muhammad Adimaja

Indonesiainside,.id, Jakarta – Data harian kasus baru Covid-19 memang mengalami lonjakan tertinggi selama pandemi sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020 lalu. Jumlah kasus harian pada Kamis (2/7), mencatat rekor tertiggi sebanyak 1.624 kasus baru.

Namun, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengklaim, pada dasarnya, persentase kasus positif sudah menurun terhitung sejak Juni dibandingkan Mei 2020. Bagaimana cara menghitungnya?

“Melihat angka bukan hanya melihat angka satu saja yang bulat, melainkan sebetulnya dilihat lebih jauh, pembandingnya, dan juga interpretasinya,” ujar Epidemiolog Gugus Tugas Nasional Dewi Nur Aisyah, di Jakarta, Kamis (2/7).

Dia menjelaskan, positivity rate Indonesia pada Juni adalah 12 persen, sedangkan pada Mei lalu mencapai 13 persen. Meski jumlah kasus baru yang dikonfirmasi mencapai lebih dari 1.000 per hari selama Juni, Dewi menuturkan hal itu disebabkan karena jumlah orang yang dites juga lebih banyak.

Positivity rate tidak hanya dilihat dari angkanya saja, melainkan dari jumlah orang yang diperiksa,” kata Dewi.

Pada pertengahan Mei, ada 3.448 orang yang positif Covid-19 dalam satu pekan dengan jumlah orang yang diperiksa hanya 26.000. Dengan demikian, positivity rate-nya mencapai 13 persen.

Sedangkan pada Juni, ada rata-rata 8.000 kasus baru dalam satu pekan sementara jumlah orang yang diperiksa mencapai 55.000 per minggu. Dengan demikian, positivity rate-nya ialah 12 persen.

Menurut dia, kasus positif yang dikonfirmasi juga memiliki gambaran yang berbeda jika dilihat lebih rinci per daerah. Sampai saat ini jumlah kasus terbanyak ada di Surabaya, Jawa Timur, yang juga dipengaruhi oleh tingginya kepadatan penduduk.

Meski demikian, Dewi menilai situasi kasus di Surabaya yang berstatus sebagai zona merah tidak serta merta menggambarkan situasi di Jawa Timur secara umum.

“Kita bisa melihat bahwa Jawa Timur merupakan zona titik merah, padahal kalau saya melihat ternyata dari semua kabupaten kota itu tidak semua itu angkanya tinggi,” ujar Dewi.

Surabaya mencatat sebanyak 5.700 kasus, kemudian Kabupaten Sidoarjo mencatat sekitar 1.300 kasus. Artinya, mayoritas dari 12.000 kasus yang ada di Jawa Timur terjadi di kedua daerah tersebut. Beberapa daerah, seperti Ngawi, baru mengonfirmasi 23 kasus dan tidak bisa dikategorikan sebagai zona merah.

Sejauh ini, pemerintah telah mengonfirmasi total 59.394 kasus positif Covid-19, dimana 29.740 orang masih dirawat. Ada 1.624 kasus baru yang dikonfirmasi pada Kamis, sekaligus menjadi rekor penambahan harian tertinggi sejak kasus pertama ditemukan awal Maret 2020. (Aza/AA)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here