107 Pasar Sempat Ditutup akibat Kasus Covid-19

Petugas kesehatan melakukan tes cepat Covid-19 kepada pedagang di pasar Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (16/6). Agensi Anadolu/Eko Siswono Toyudho

Indonesiainside.id, Jakarta – Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mencatat sebanyak 107 pasar tradisional di Indonesia sempat ditutup akibat ditemukan kasus positif Covid-19 sejak Mei 2020. Akibatnya, pedagang mengalami kerugian karena tidak bisa berjualan.

“Penutupan pasar ini terjadi karena teridentifikasi pedagang atau pengunjung positif Covid-19,” kata Ketua bidang organisasi IKAPPI Muhammad Ainun Najib, dilansir Anadolu Agency, Jumat (3/7).

Lama penutupan pasar berkisar antara tiga hari hingga satu minggu sehingga mengakibatkan pedagang tidak bisa berjualan. “Pedagang mengalami kerugian cukup besar akibat penutupan yang di lakukan pengelola pasar atau pemerintah daerah,” kata dia.

IKAPPI meminta penutupan pasar menjadi kebijakan terakhir jika pilihan tersebut memang harus dilakukan. Jika harus dilakukan, IKAPPI meminta pengelola pasar menyosialisasikan dengan baik kepada para pedagang.

“Kami mencatat banyak contoh kasus di beberapa pasar yang ditutup sepihak sehingga pedagang kebingungan pada saat pedagang mau berdagang di hari berikutnya,” tutur dia.

IKAPPI mendorong protokol kesehatan dilaksanakan secara ketat untuk mencegah penularan Covid-19 agar pasar bisa terus beroperasi. Pasalnya, lebih dari 12 juta orang bergantung pada mata pencaharian di pasar.

Berdasarkan data IKAPPI hingga 26 Juni 2020, ada total 768 pedagang pasar dinyatakan positif Covid-19, di mana 32 orang di antaranya meninggal.

Jumlah pedagang pasar yang positif Covid-19 terus bertambah sejalan dengan program tes cepat dan tes usap yang digelar pemerintah untuk mendeteksi dini kasus infeksi SARS-CoV-2 itu.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan pasar menjadi salah satu tempat yang rentan penularan Covid-19. Pemerintah, lanjut dia, akan mengerahkan Polri, TNI dan aparatur sipil untuk mengawasi aktivitas di sekitar 300 pasar di Jakarta secara lebih ketat.

“Jumlah orang yang masuk pasar akan dikendalikan, tidak boleh lebihi 50 persen dan ini dikendalikan oleh petugas di pintu masuk pasar,” tutur dia.

Meski demikian, Pemprov DKI menetapkan pasar bisa beroperasi dengan jam normal dan meniadakan sistem ganjil genap pada kios pasar “Cara ganjil genap yang kemarin ditetapkan itu ternyata tidak efektif,” lanjut Anies.

Perusahaan Daerah Pasar Jaya, selaku pengelola 149 pasar di ibu kota, mewajibkan pedagang dan pembeli wajib menggunakan masker, meminta pembeli berusia lanjut untuk tidak ke pasar, dan mengecek suhu tubuh.

Direktur Keuangan dan Administrasi PD Pasar Jaya Ratih Mayasari mengatakan, alur keluar masuk pembeli telah diatur agar lebih mudah menerapkan aturan aga jarak.

“PD Pasar Jaya telah melakukan penyemprotan pasar secara rutin, dan jika ada yang terindikasi positif akan ada penutupan sementara untuk dilakukan pembersihan (penyemprotan disinfektan) selama tiga hari,” jelas Ratih. (Aza/AA)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here