Wakil Ketua MPR Dorong Pemkab Ponorogo Gelar Rapid Test Gratis untuk Santri Gontor

santri rapid test
Petugas melakukan rapid test COVID-19 terhadap santri. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid mendorong Pemkab Ponorogo menggelar rapid test gratis di Pesantern Modern Darussalam Gontor, Kampus 2. Menurutnya, pengadaan test bebas biaya akan meringankan biaya yang dikeluarkan santri atau wali santri.

Ia memandang, untuk ukuran orangtua santri, biaya rapid test terbilang tak murah. Setidaknya, orangtua harus merogoh kocek hampir Rp 400.000-an per anak.

Pria yang akrab disapa Gus Jazil ini berani mengatakan demikian sebab dirinya tahu dari 3 keponakan yang nyantri di Pesantren Gontor, di mana mereka diminta biaya rapid test dan bayar bis rombongan. Pada sisi lain, pendapatan para wali santri juga menurun akibat krisis ekonomi selama pandemi.

“Belum lagi dengan kebutuhan lain seperti buku, seragam, dan uang asrama,” ujar dia dalam pernyataan tertulis, Ahad (12/7).

Koordinator Nasional Nusantara Mengaji itu mengatakan, subsidi atau keringanan biaya rapid test sangat mungkin dilakukan. Sebab saat ini penyerapan anggaran di Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan masih tergolong rendah.

“Kalau masih rendah penyerapan anggarannya, kenapa tidak dialokasikan sebagian untuk para santri. Misalnya dengan mendirikan pelayan rapid test gratis untuk para santri,” ujar Gus Jazil.

Skenario kedua untuk membantu para santri dalam soal rapid test, Gus Jazil mengusulkan Pemerintah Kabupaten Ponorogo bisa bekerja sama dengan pemerintah kabupaten atau kota dan provinsi dari asal santri. Lebih lanjut, sinergi antar pemerintah kabupaten, kota, provinsi, dan pusat menurutnya mestinya dilakukan.

“Agar program yang ada bisa dijalankan sesuai rencana dan terintegrasi. Jangan sampai masalah sudah besar baru kemudian minta bantuan,” imbuhnya.

Sebelumnya, Jazli kecewa atas sikap Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, yang menyalahkan santri saat kembali ke pondok pesantren di Ponorogo tidak melengkapi diri dengan surat keterangan rapid test. Ia memahami aturan yang mengharuskan para santri yang kembali ke pesantren agar melengkapi diri dengan surat keterangan rapid test.

“Tapi jangan seolah-olah menyalahkan santri, orangtua santri, dan pengasuh pesantren,” ujarnya katanya. (SD)

 

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here