Novel Baswedan: Saya Tidak Ingin Katakan Ini Kemenangan Para Penjahat dan Koruptor

Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

Jakarta, 16/7 (ANTARA) – Dua penyerang penyidik KPK Novel Baswedan divonis 2 tahun penjara dan 1,5 tahun penjara karena dinyatakan tidak terbukti berniat untuk menyebabkan luka berat meski sudah merencanakan penyerangan. Padahal, akibat kasus penyerangan itu, Novel Baswedan menderita luka berat dan harus bolak-balik ke Singapura untuk pengobatan kedua matanya yang disiram air keras.

“Perbuatan terdakwa telah menambahkan air aki ke dalam mug yang telah terisi air aki sebenarnya tidak menghendaki luka berat pada diri saksi korban Novel Baswedan sebab jika sikap batin terdakwa ingin menimbulkan luka berat, tentu terdakwa tidak perlu menambahkan air kepada mug yang telah terisi air aki yang merupakan air keras tersebeut atau dengan cara lain apalagi terdakwa anggota pasukan Brimob yang terlatih melakukan penyerangan secara fisik,” kata ketua majelis hakim Djumyanto di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (16/7).

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis malam menjatuhkan vonis selama 2 tahun penjara kepada Rahmat Kadir Mahulette dan 1,5 tahun penjara kepada Ronny Bugis karena terbukti melakukan penganiayaan yang menyebabkan luka berat terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

Novel Baswedan mengatakan vonis tersebut menunjukkan negara tidak berpihak pada upaya pemberantasan korupsi. “Saya tidak ingin katakan bahwa ini adalah kemenangan para penjahat dan koruptor tapi saya khawatir akhir persidangan ini adalah cerminan yang nyata bahwa negara benar-benar tidak berpihak kepada upaya pemberantasan korupsi,” kata Novel Baswedan, Kamis (16/7).

Sementara Ronny dan Rahmat diketahui adalah polisi aktif dari Satuan Gegana Korps Brimob Kelapa Dua Depok. Atas perbuatannya, kedua terdakwa langsung menyatakan menerima.

“Terima kasih yang mulia, saya menerima,” kata Rahmat.

Senada, Ronny juga menerima putusan hakim dalam persidangan tersebut. “Kami menerima putusannya yang mulia,” kata Ronny.

Berbeda dengan jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Jakarta Utara, masih menyatakan pikir-pikir. Dalam sidang tersebut, JPU menuntut 1 tahun penjara kepada kedua penyerang Novel tersebut. Rendahnya tuntutan tersebut membuat heboh publik Tanah Air. Namun, putusan hakim tetap saja tidak memenuhi rasa keadilan masyakat jika dilihat dampak dari kasus tersebut.

Hakim mengutip keterangan ahli Hamdi Moeloek perbuatan terdakwa ingin memberikan pelajaran kepada saksi korban Novel Baswedan untuk memuaskan impuls terhadap Novel karena ingin membela korps tempat Rahmat dan Ronny bekerja yaitu institusi Polri.

“Karena terdakwa beranggapan semestinya Novel Baswedan memiliki jiwa korps yang sama dengan demikian jelas perbuatan terdakwa memang terbukti mengakibatkan luka berat terhadap saksi berat Novel Baswedan tapi luka berat itu pada faktanya bukan niat atau bukan kehendak atau tidak menjadi sikap batin terdakwa sejak awal sehingga unsur penganiayaan berat dalam dakwaan primer tidak terpenuhi,” ungkap Hakim.

Meski tidak terpenuhi penganiayaan berat, namun penganiayaan itu dilakukan dengan rencana lebih dahulu. “Dalam sidang muncul pengakuan bahwa ada niat terdakwa memberikan pelajaran kepada saksi korban Novel Baswedan yang diawali berusaha mencari alamat, setelah memperoleh alamat tinggal lalu meminjam motor Ronny Bugis untuk melakukan survei pada 8-9 April 2017,” tambah hakim.

Setelah yakin alamat Novel maka pada 10 April 2017, Rahmat mengambil sisa air aki ke kontrakan dan mencampur air ke mug yang sudah diisi air aki yang diperoleh dari pool mobil Polri. “Terdakwa lalu mengajak Ronny Bugis sampai akhirnya terdakwa menyiramkan air aki kepada Novel Baswedan sehingga jelas rangkaian perbuatan terdakwa dilakukan dalam suasana tenang dalam rentang waktu yang cukup antara kehendak dan pelaksanaan kehendak sehingga jelas direncanakan lebih dahulu,” tambah hakim Djumyanto.

Keduanya terbukti melakukan perbuatan berdasarkan dakwaan subsider pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Putusan itu memang lebih berat dibanding tuntutan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Jakarta Utara yang menuntut Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis selama 1 tahun penjara. Namun, perlu diketahui, Ronny dan Rahmat adalah polisi aktif dari Satuan Gegana Korps Brimob Kelapa Dua Depok. (aza)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here