ITJ Kecam Promosi Seks Bebas di Media Sosial

ilustrasi. foto: sasint/ pixabay

Indonesiainside.id, Jakarta – Promosi seks bebas di media sosial mendapat kecaman dari para pemuda dari komunitas #IndonesiaTanpaJIL (ITJ). Aktivis ITJ Chapter Jakarta, Anila Gusfani, menganggap bahwa sang penulis artikel dan pengelola laman situs yang memuat akan turut bertanggung jawab jika kasus perzinaan di kalangan anak muda semakin merebak lantaran mereka telah membantu mempromosikannya.

“Sebenarnya tidak ada yang menarik dari artikel itu. Cerita selanjutnya sudah bisa ditebak, seperti yang sudah-sudah, setelah beres berzina, minta tanggung jawab kemudian,” ujar Anila dalam keterangannya, Jumat (31/7).

Ia justru mengungkapkan keheranannya akan kekecewaan perempuan yang merasa ditipu oleh lelaki yang dijumpainya melalui aplikasi kencan, sebab aplikasi semacam itu memang sejak awal tidak menawarkan masa depan yang baik. Kalau mau membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah, memang harus dengan jalan yang baik, bukan dengan mendekati zina.

“Apa sih yang diharapkan dari pencarian pasangan via online seperti ini? Sekarang, mencari pasangan serius dengan cara baik-baik saja masih rentan dibohongi, apalagi dengan cara online yang sudah banyak kasus penipuannya?,” ungkap perempuan muda yang aktif di banyak komunitas seperti Baca Bareng dan Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia ini.

Sebuah akun Twitter yang berafiliasi pada situs yang belakangan kerap mempropagandakan feminisme dan kebebasan seksual pada Senin menulis, “tidak ada yang salah dalam mencari cuddle dan seks di aplikasi kencan. Tidak ada yang salah, manusia boleh berusaha tapi kerap kali ada manusia lain yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.” Cuitan tersebut juga memuat sebuah tautan menuju sebuah artikel yang membahas seputar aplikasi kencan.

Dalam artikel tersebut, penulisnya memaparkan bagaimana perempuan seringkali dikecewakan karena menjadi korban manipulasi oleh kaum lelaki yang hanya menginginkan seks. Di bagian akhir artikelnya, sang penulis hanya menawarkan sebuah solusi: “kalau kira-kira ‘bajingan’ ya tidak usah diladeni, kecuali kalau yang engkau cari memang ‘bajingan’.”

Sejak didirikan pada tahun 2012, ITJ banyak menyuarakan keprihatinannya terhadap pengaruh pemikiran sekularisme dan liberalisme. Termasuk juga turunannya seperti feminisme, pembelaan terhadap lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) dan kebebasan seksual. (Msh)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here