Ancaman Infodemik: Komunikasi Publik dan Risiko Harus Berbasis Sains

ilustrasi obat anticovid

Indonesiainside.id, Jakarta – Tantangan pemerintah dalam upaya penanggulangan Covid-19 tidak hanya menyangkut sosialisasi pencegahan untuk memutus mata rantai virus yang berasal dari Wuhan, China, tersebut.

Ada tantangan yang lebih berat lagi yang menyerang publik lewat media sosial (medsos) yaitu kekeliruan informasi atau temuan-temuan yang tidak berbasis riset dan ilmu pengetahuan. Hambatan ini dikenal dengan istilah infodemik seputar Covid-19.

Infodemik ini mengarah pada informasi berlebih akan sebuah masalah, sehingga kemunculannya dapat mengganggu usaha pencarian solusi terhadap masalah tersebut. Ini juga yang menjadi sorotan dunia internasional dengan munculnya berbagai informasi keliru terkait Covid-19. Misalnya, pemakaian kalung antivirus hingga praktik perdukunan oleh ahli “gadungan”.

Koordinator Media Center Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Arie Rukmantara mengatakan, perlu komunikasi risiko berbasis sains dan rekayasa sosial dalam menangani pandemi termasuk pandemi Covid-19.

“Komunikasi publik, komunikasi risiko harus berbasis sains di masa pandemi ini,” kata Arie dalam konferensi video yang diadakan di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta, Senin (3/8).

Arie yang juga penulis Buku Sejarah Pandemi menuturkan, komunikasi publik yang dilakukan pihak media satuan tugas juga berbasis ilmu pengetahuan sehingga tidak bisa mengeluarkan informasi begitu saja tanpa diverifikasi.

Menurut dia, dari berbagai pandemi yang terjadi sebelum Covid-19, penanganan pandemi harus dilengkapi edukasi kepada masyarakat dan rekayasa sosial seperti simulasi menjaga jarak yang benar dan mencuci tangan.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here