Gugus Tugas Pastikan Pandemi Covid-19 Bukan Konspirasi

Ilustrasi pemakamanan jenazah terduga Covid-19. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Sebelum Indonesia mengalami pandemi Covid-19, tahun 2005-2006 Indonesia juga mengalami fase ke-enam pandemi flu yang mulai tertular di seluruh dunia. Rentetan pandemi flu ini membuat setiap orang menduga ada rekayasa dibalik kejadian.

Koordinator Media Center Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Arie Rukmantara memastikan pandemi ini bukan konspirasi. “Ketika wabah dimulai sekitar tahun 1500-an belum ada satu aktor atau kelompok yang terbukti melakukan konspirasi pandemi, dan wabah ini selalu terjadi seporadis,” kata Arie di Graha BNPB, Jakarta.

Mengenai munculnya pandemi dengan tentang waktu tertentu, ia berpendapat bahwa di teori zoonosis (kesehatan hewan) selalu ada penyakit-penyakit baru. Bahkan selama masa pandemi Covid-19 tak menutup kemungkinan ada penyakit-penyakit baru yang bermunculan.

“Bahkan tahun 1700-an kita selalu menemukan pandemi flu dan tahun 1918 pandemi flu yang menyebabkan puluhan juta orang meninggal, kemudian tahun 2014 ada ebola di Afrika dan SARS-Cov di Arab Saudi. Jadi rasanya sulit kalau menduga ada orang yang konsisten menyebarkan virus ini,” katanya.

Dalam pola penyebarannya, penulis buku sejarah pandemi mengatakan bahwa penyakit ini bertransmisi dari orang ke orang. Ada juga pola bahwa penyebarannya terjadi di kota besar karena kepadatan penduduk dan migrasi orang dari suatu wilayah.

“Kita bisa cek data antara arsip sejarah dengan buku lain daerah penyebaran di Jawa sangat besar,” tuturnya.

Menurut dia, penanganan Covid-19 tidak boleh hanya menjadi tanggungjawab suatu instansi atau lembaga. Pesan-pesan pencegahan atau protokol kesehatan harus dilakukan warga secara simultan dan bersamaan agar penanganan cepat tuntas.

“Harus ada sebuah badan yang mengkoordinasi antar lembaga, karena bukan masalah kesehatan. Pertama, urusan pelabuhan ada orang keluar-masuk, kedua kesehatan dan ketiga terkait peraturan, ada sanksi baik kepada petugas atau orang yang melanggar,” ujarnya.

Belajar dari sejarah, menurut Arie, tidak perlu ada dikotomi antara ekonomi dan kesehatan. Masing-masing individu penting untuk melakukan penanganan secara terpadu. (Msh)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here