KPAI: HP Hingga Pendidikan Jadi Masalah Anak di Tengah Pandemi

KPAI. Foto: Istimewa

Indonesiainside.id, Jakarta – Komisi Perlindungan Indonesia (KPAI) membeberkan tiga masalah perlindungan anak di masa pandemi Covid-19. Tiga masalah itu yakni penyalahgunaan telepon pintar, kesehatan, dan pendidikan. KPAI meminta pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap masalah tersebut.

Ketua KPAI, Susanto, menjelaskan, telepon pintar atau HP menjadi masalah bagi anak-anak karena mereka semakin dekat dan lekat dengan perangkat elektronik selama masa pandemi. KPAI menemukan 22 persen anak melihat tayangan dan iklan tidak senonoh melalui HP. Kemudian 5 persen anak dikirimi foto tidak senonoh, dan 3 persen dikirimi video tidak sopan. Survei tersebut dilakukan KPAI kepada 25.264 anak dari 34 provinsi di Indonesia.

“Jadi, harus benar-benar dipastikan suara anak yang masuk KPAI disampaikan bagaimana tanggung jawab negara agar anak-anak tidak terpapar konten-konten berisiko,” kata Susanto dalam diskusi virtual di Jakarta, kemarin.

Kemudian masalah kesehatan. Susanto mengatakan, banyak anak di Indonesia yang terpapar wabah Covid-19. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, setiap hari ada 100 anak tertular virus tersebut.

“Ini harus menjadi perhatian besar dan PR kita, kalau kita tidak melakukan advokasi maka dikhawatirkan upaya pencegahan dan penanganan Covid-19 pada anak semakin defisit,” ucap dia.

Selanjutnya, masalah pendidikan anak di masa pandemi. Ini berkaitan dengan langkah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberlakukan skema pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat pandemi Covid-19. Skema tersebut menimbulkan sejumlah konsekuensi pada anak.

Berdasarkan survei KPAI, 25,4 persen anak menggunakan perangkat (gawai) seperti ponsel, tablet, maupun komputer jinjing lebih dari 5 jam per hari. 76,8 persen anak menggunakan perangkat tersebut selain keperluan belajar.

Sementara 79 persen anak mengaku tidak memiliki aturan menggunakan perangkat tersebut. Di sisi lain, KPAI juga mengungkapkan banyak anak di Indonesia yang tidak memiliki gawai untuk belajar. Hal ini belum termasuk anak-anak yang kesulitan mendapat sinyal untuk kegiatan belajar.

“Tampaknya tidak semua anak di Indonesia mendapatkan layanan pendidikan terbaik. Jangankan saat Covid-19, sebelum Covid019 pun juga ada anak yang mengakami kendala layanan pendidikan,” ucap Susanto. (Aza/Ant)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here