BPOM: Obat Covid-19 Temuan BIN, TNI AD, dan UNAIR Kategori Obat Keras

Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito. Foto: Anya Sidarta

Indonesiainside.id, Jakarta– Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan adanya sejumlah masalah dari kombinasi obat terapi Covid-19 temuan Universitas Airlangga, Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI Angkatan Darat (AD). Menurut BPOM masih ada masalah kritis atas temuan tersebut.

Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan berdasarkan hasil kajian yang dilakukan lembaganya sejak 28 Juli lalu, menemukan ada sejumlah masalah kritis yang menunjukkan bahwa obat kombinasi tersebut belum merepresantasikan masyarakat Indonesia.  Sebab kata dia, uji klinis terhadap obat itu belum memenuhi lantaran subjek atau pasien yang dipilih tidak dilakukan secara acak.

“Suatu riset itu kan harus dilakukan secara acak sehingga betul-betul merepresentasikan populasi dari dimana nanti obat itu akan diberikan,” kata Penny dalam konferensi persnya pada Rabu (19/8).

Selain itu juga dia menemukan adanya masalah mengenai pemberian obat terhadap pasien positif Covid-19 tanpa gejala.  “Padahal kan sesuai dengan protokolnya OTG tdak perlu diberi obat,” kata dia.

Obat kombinasi tersebut kata Penny juga tidak memberikan efek yang signifikan dari terapi obat yang sudah ada.  Seharusnya kata dia, dalam suatu riset harus menunjukkan hasil yang baru dari terapi obat lainnya.

Penny juga menyebut obat kombinasi itu merupakan obat keras sehingga dibutuhkan ketaatan protokol pemberian izin oleh lembaganya.  “Karena ini obat kombinasi ini adalah obat keras tentunya ada side effect yang bsa ditimbulkan sehingga kita tdak bsa sembarangan orang apalagi orang yang tidak sakit,” pungkas Penny.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here