Wakil Gubernur Jabar, Uu Ruzhanul Ulum: Perceraian Tinggi Karena Covid-19

Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum
Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Selama Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret lalu, sedikitnya 10 juta orang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), munculnya orang-orang miskin baru, dan daya beli masyarakat menurun tajam. Ini semua karena dampak dari Covid-19, dimana perekonomian turun di berbagai sektor.

Akibat dari perekonomian yang menurun tersebut, daya beli juga ikut turun, hasil-hasil pertanian, seperti sayur-mayur dan buah-buahan, juga ikut turun. Orang-orang-orang kota sengsara karena dirumahkan atau di PHK, orang-orang desa nestapa karena hasil panennya tidak ada yang beli. Wajah-wajah sendu dan murung bermunculan di tengah-tengah kota dan desa.

Beratnya kehidupan di era Covid-19 yang tidak ada yang tahu sampai kapan akan berakhir, akibat perekonomian yang melemah, membuat sendi-sendi ikatan pernikahan mengalami ujian. Di Jawa Barat misalnya. Di Kabupaten Bandung, sedikitnya ada 5700 pasangan yang cerai; di Ciamis, lebih dari 3 ribu suami-istri bercerai. “Mayoritas yang menggugat cerai adalah para isteri,” tutur Uu Ruzhanul Ulum, Wakil Gubernur Jawa Barat. Angka perceraian di era Covid-19 menajak secara signifikan, tidak hanya di perkotaan, tetapi juga di pelososk-pelosok desa.

Beban ekonomi yang terus memberat sangat dirasakan oleh kaum isteri. Merekalah yang paling merasakan ketika ekonomi memburuk. Jika di kota-kota, para karyawan banyak dirumahkan atau di PHK, jika di desa-desa, mereka tidak bisa menjual hasil panennya dengan harga yang normal. Sebagai contoh, harga kembang kol di tingkat petani biasanya bisa diatas Rp 10 ribu per kilogram, saat ini, hanya diharga oleh tengkulak Rp 4 ribu per kilogram. “Padahal, ongkos angkutnya saja Rp 5 ribu, bagaimana mereka bisa bertahan?”

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here