Dua Perlima Tanaman Potensial Dunia Terancam Punah

Fonia adalah rumput yang tumbuh di padang savana Afrika Barat yang digunakan sebagai bahan makanan sereal. Foto: BBC

Indonesiainside.id, Jakarta – Laporan Royal Botanic Gardens menyebutkan tumbuhan-tumbuhan yang dinilai sangat menjanjikan untuk diolah menjadi obat-obatan, bahan bakar, dan makanan, terancam punah.

Para ilmuwan penyusun laporan mengatakan kini mereka sedang berpacu dengan waktu untuk memberi nama dan mendeskripsikan spesies baru tumbuh-tumbuhan, sebelum akhirnya punah.

“Tapi berbagai peluang menjadikan tanaman dan jamur sebagai solusi persoalan global seperti ketahanan pangan dan perubahan iklim, telah pupus. Kita hidup di zaman kepunahan,” kata direktur sains di Kew, Prof Alexandre Antonelli dilansir BBC News, Rabu(30/9).

Penilaian tentang Kondisi Tanaman dan Jamur Dunia, ini berdasarkan riset lebih dari 200 ilmuwan di 42 negara.

Laporan ini dirilis jelang sebuah Pertemuan PBB, untuk menekan para pemimpin dunia mengatasi penyusutan keanekaragaman hayati.

Peningkatan proyeksi tumbuhan yang terancam punah disebabkan oleh tolok ukur yang lebih ketat. “Gambaran risiko ini sangat mengkhawatirkan dan perlu ada tindakan segera,” katanya.

“Kita kalah dalam lomba dengan waktu, karena spesies-spesies telah punah lebih cepat sebelum kita menemukan dan mencatat nama mereka.

“Banyak dari spesies ini menyimpan petunjuk penting untuk memecahkan tantangan medis yang paling mendesak, dan bahkan mungkin pandemi yang kita hadapi saat ini.”

Laporan ini mengungkapkan, hanya sedikit spesies tanaman yang digunakan untuk makanan dan bahan bakar.

Lebih dari 7.000 jenis tumbuhan yang dapat dimakan punya potensi menjadi sumber pangan masa depan, tapi baru sebagian kecil yang digunakan untuk memberi makan populasi manusia.

Kemudian dari sekitar 2.500 tumbuhan yang dapat menjadi sumber energi untuk jutaan orang di seluruh dunia, hanya enam jenis saja – jagung, tebu, kedelai, minyak sawit, rapeseed, dan gandum – yang diolah menjadi sumber bahan bakar.

Dr Colin Clubbe, kepala ilmu konservasi di Kew, mengatakan kepada BBC News: “Saat ini kita hanya memanfaatkan sebagian kecil tanaman dan jamur di seluruh dunia, baik itu digunakan untuk makanan atau keperluan medis, atau untuk bahan bakar.

“Kita telah mengabaikan potensi harta karun spesies lain yang semakin kita ketahui dan teknik untuk menyelidiki demi kebaikan kebaikan umat manusia.”

Kalangan ilmuwan memperkirakan risiko kepunahan kemungkinan akan lebih tinggi dari yang diduga sebelumnya, dengan perkiraan 140.000 atau 39,4% jenis tumbuhan yang terancam punah, dibandingkan pada 2016 mencapai 21%.

Mereka mengatakan proyeksi ini bertambah besar, karena sudah diukur dengan penilaian konservasi yang canggih dan akurat.

Para ilmuwan itu menyerukan adanya langkah-langkah penanganan risiko dengan segera melakukan pelacakan dengan cepat, menggunakan teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan pendanaan yang lebih untuk konservasi tumbuh-tumbuhan.

Penelitian ini menemukan 723 tanaman yang digunakan untuk kebutuhan medis saat ini mengalami risiko kepunahan, bahkan dipanen berlebihan di sejumlah bagian dunia.

Kemudian 1.942 tumbuhan serta 1886 jamur sudah dinobatkan sebagai temuan baru pada 2019, termasuk spesies yang berpotensi bisa digunakan sebagai bahan makanan, minuman dan obat-obatan atau serat.

Laporan tersebut berisi bab tentang flora Inggris, yang dipelajari lebih baik daripada di sebagian besar belahan dunia lainnya.

Namun, tidak ada daftar tunggal mengenai tanaman jenis bunga-bungaan Inggris yang disepakati, dan bahkan lebih banyak ketidakpastian mengenai jamur, yang diperkirakan berkisar antara 12.000 hingga 20.000 jenis.(EP)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here