IPB University Ajak Masyarakat Lakukan Revolusi Meja Makan di Setiap Rumah

Orang-orang menyantap makanan sembari menerapkan jaga jarak sosial (social distancing) di dalam sebuah pujasera (food court) di tengah pandemi COVID-19 di Manila, Filipiina, Kamis (18/6). Xinhua/Rouelle Umali

Indonesiainside.id, Jakarta – Institut Pertanian Bogor (IPB) University mengajak masyarakat di Indonesia agar melakukan “revolusi meja makan” guna mengantisipasi kelangkaan pangan akibat pandemi Covid-19.

“Strategi revolusi meja makan untuk menguatkan pangan lokal di lingkungan masyarakat,” kata dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH) Fakultas Pertanian (Faperta) Prof Dr Edi Santosa melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (19/20).

Cara pertama adalah membangun memori individual dan memori kolektif. Memori individual dibangun dari kebiasaan makan sehari-hari, misalnya saat kecil dulu pernah makan nasi jagung, papeda, sup bubur garut dan lainnya.

Sedangkan memori kolektif adalah kesadaran dan tanggung jawab yang dibangun di tengah masyarakat. Misalnya dengan menerapkan pembelajaran tentang pangan lokal di institusi pendidikan atau institusi sosial.

Menurut dia, revolusi meja makan adalah diversifikasi pangan yang harus dimulai dari rumah tangga. Saat ini, keragaman menu makanan di Indonesia masih rendah meskipun bahan pangan beragam. Sebagai contoh, menu sarapan pagi orang Jepang jenisnya beragam dengan mengonsumsi 21 jenis makanan.

Kemudian 20 jenis saat makan siang dan 34 jenis menu pada makan malam. Sedangkan orang Indonesia rata-rata hanya mengonsumsi delapan jenis menu makanan pada saat sarapan, 15 jenis saat makan siang dan delapan jenis pada makan malam.

Meskipun saat ini ketersediaan pangan masih cukup untuk masyarakat, isu kelangkaan pangan harus disikapi dengan serius oleh berbagai pihak. Perlu adanya upaya strategis untuk menghindari kelangkaan bahan makanan selama masa pandemi.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here