Pemerintah Kritik Perfilman Indonesia: Butuh Banyak Literasi untuk Mendunia

Orang-orang menonton film di sebuah bioskop di Wuhan, Provinsi Hubei, China tengah, Senin (20/7/2020). Xinhua/Xiao Yijiu

Indonesiainside.id, Jakarta – Perfilman Indonesia membutuhkan lebih banyak literasi untuk bisa menumbuhkan permintaan baik di pasar dalam negeri maupun internasional, menurut Direktur Perfilman, Musik, dan Media Baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Ahmad Mahendra.

Ahmad Mahendra mengatakan Indonesia belum memiliki skema distribusi film yang mudah diakses oleh masyarakat. “Selama ini, film Indonesia, baik yang komersial maupun independen, terbantu berkat adanya festival film di berbagai tempat,” katanya dalam diskusi daring “Talk on Indonesia: Indonesian Films During the Pandemic” yang diadakan Kedutaan Besar RI London, Jumat (6/11) waktu setempat.

Oleh karena itu, Kemdikbud berencana mengembangkan jejaring ekshibisi dan apresiasi film di Indonesia berupa “Cultural Hub”, yaitu ruang aktivitas kebudayaan warga di lingkungan terkecil dan dimotori oleh komunitas setempat.

Ahmad memaparkan program yang diadakan Kemdikbud itu merespons kondisi perfilman dalam masa pandemi COVID-19, seperti kerja sama penayangan film dengan Perwakilan RI di luar negeri.

Selain melaluii program Indonesiana Films untuk peningkatan kapasitas sineas Indonesia dengan menghadirkan pengajar yang berpengalaman dari Hollywood.

Sementara itu Budi Irawanto dari Universitas Gadjah Mada mengamati bahwa di tengah pandemi, dorongan untuk merekam hal-hal di sekitar kita senantiasa menyala di kalangan pembuat film dokumenter, untuk membangun pengetahuan kolektif.

Di tengah pandemi ketika orang-orang merasa makin terisolasi, unggahan film dokumenter di berbagai kanal publik justru menjadi ruang untuk berefleksi tentang situasi yang penuh ketidakpastian ini.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here