Limbah Medis Meningkat hingga 50% selama Pandemi Covid-19

Limbah masker medis ditemukan saat penyelam membersihkan laut di acara Pekan Lingkungan di Pantai Gurpinar, distrik Beylikduzu, Istanbul, Turki , Sabtu (14/6).

Indonesiainside.id, Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan jumlah limbah medis meningkat 30 persen hingga 50 persen akibat pandemi Covid-19.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, jumlah limbah medis Covid-19 yang tercatat mencapai 1.662,75 ton dari 34 provinsi.

Limbah medis Covid-19 termasuk ke dalam kategori limbah infeksius, terdiri dari alat pelindung diri (APD), alat tes Covid-19, sampel laboratorium, hingga masker bekas pakai masyarakat yang terinfeksi virus SARS-CoV-2. “Limbah medis ini kalau tidak ditangani serius bisa menjadi salah satu mata rantai penularan Covid-19,” kata Rosa dalam diskusi virtual, Jumat (13/11).

KLHK juga memperkirakan ada 88 ton limbah medis per hari —termasuk limbah Covid-19— yang belum dikelola dengan baik karena terbatasnya fasilitas pengelolaan. Pada akhir Oktober 2020, kantong limbah medis dari hasil pemeriksaan Covid-19 ditemukan dibuang di pinggir jalan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Rosa menuturkan kendala pengelolaan limbah medis disebabkan oleh fasilitas pengangkut dan pengelolaan yang tidak merata di Indonesia. Rosa menuturkan hanya ada 117 rumah sakit dari total 2.925 rumah sakit di Indonesia yang memiliki izin incinerator untuk memusnahkan limbah medis dengan metode pembakaran pada suhu minimum 800 derajat celcius.

Sedangkan jasa pengelola limbah B3 yang berizin hanya berjumlah 17 perusahaan, yang sebagian besar berada di Pulau Jawa. Akibatnya, pengelolaan limbah medis pada daerah tertentu membutuhkan biaya yang besar.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here