Pembangunan Hunian Pascagempa Lombok Berjalan Lambat

Sejumlah korban gempa berada di hunian sementara di Desa Kekait, Lombok Barat, NTB, Rabu (19/12/2018). Foto: Antara

Mayoritas pengungsi masih menempati tenda darurat yang terbuat dari terpal

Indonesiainiside.id, Jakarta — Pemulihan terdampak bencana di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) terus dilakukan. Guna mempercepat proses rehabilitasi, pemerintah melakukan perbaikan fasilitas dan membangun hunian sementara bagi warga terdampak.

Di Ibu Kota Provinsi, pemerintah sedang membangun 172 unit rumah instan sederhana sehat (Risha) dan 129 unit rumah instan konvensional (Riko). Meski demikian, yang sudah jadi baru 39 unit Risha model blok panel. Mayoritas pengungsi masih menempati tenda darurat yang terbuat dari terpal.

“Kondisi masyarakat kita terus pantau melalui kantor camat dan lurah untuk suplai logistiknya, karena mereka menempati hunian sementara yang terbuat dari terpal,” tutur Kepala Pusdalops Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Agus saat dihubungi Indonesiainside.id, Rabu (2/1).

Agus mengungkpakan, setiap tiga bulan sekali, pihaknya memperbarui terpal pengungsi. “Karena kekuatannya hanya tiga bulan, kita droping lagi,” imbuhnya. Sejauh ini, kata dia, jumlah pengungsi sudah berkurang.

Jumlah warga yang mengungsi saat terjadinya gempa sebanyak 82.189 (24.441 KK) dan menempati posko pengungsian di 701 lokasi. Rumah rusak berat 2.396 unit, rusak sedang 2.777 unit dan rusak ringan 8.264 unit, total 13.437 unit.

Pada sisi lain, pembangunan Risha terkesan berjalan lambat. Hal itu disebabkan karena pihak aplikator tak siap menyediakan atribut seperti panel dan baut. “Kalau Riko jalan terus,” kata Sekretaris BPBD Mataram Ahmad Muzzaki lansir Suara NTB.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here