Pengungsi Terdampak Likuifaksi di Petobo Kesulitan Air Bersih

Agar mendapat air warga harus menggali tanah dengan mesin dengan kedalaman bervariasi hingga 100 meter

Indonesiainside.id, Palu — Abdul Naim, Warga RT1/RW 05 Kelurahan Petobo, Palu Selatan merasa sulit mendapati air bersih untuk mandi dan minum di pengungsian terdampak gempa dan likuifaksi. Mobil tangki yang biasanya menyuplai kebutuhan air sudah jarang datang.

Agar mendapat air warga harus menggali tanah dengan mesin dengan kedalaman bervariasi mulai dari 50 meter hingga 100 meter. Kalau enggan menggali, warga pergi ke kompleks perumahan.

Mereka menempuh jarak sekitar 500 meter dari lokasi pengungsian untuk sekadar menumpang mandi, mencuci dan menimba air untuk di konsumsi. “Susah air untuk mandi dan minum dan sebagainya,” katanya, Rabu (2/1).

Sedikitnya, ada 1.642 kepala keluarga atau 3.800 jiwa korban terdampak gempa dan likuifaksi Kelurahan Petobo yang saat ini berada di lokasi pengungsian di jalan Jepang atau sebelah timur dari area likuifaksi.

Naim mengakui bahwa wilayah yang ditempati oleh korban di pengungsian saat ini, merupakan daerah yang kering, tandus, sehingga sulit untuk mendapat air.

“Kami sangat berharap agar kesulitan ini segera dicarikan solusinya oleh pemerintah. Pemerintah harus menyediakan air bersih untuk korban,” katanya.

Anggota DPRD Sulawesi Tengah Muhammad Masykur mendesak pemerintah segera merampungkan pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) yang meliputi Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here