Pengungsi Palu Menjerit, Bantuan Rp28 Miliar Harus Diaudit

Oleh: Eko Purwosano Akli

Memasuki bulan ke empat pascabencana gempa bumi, tsunami dan likuefaksi, di Kota Palu, kabupaten Sigi dan Donggala (Pasigala), bantuan dari pemerintah untuk para penyintas bencana, dianggap belum sepenuhnya tersalurkan dengan baik.

Indonesiainside.id, Palu — Para korban bencana gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi Kota Palu, Sigi, dan Donggala (Pasigala) masih hidup dalam kondisi memprihatinkan. Meski sudah memasuki empat bulan pascabencana, kondisi mereka belum juga membaik.

Hingga saat ini, masih banyak penyintas yang tinggal di posko-posko pengungsian, tidak mendapatkan bantuan 12 item sembako maupun kebutuhan sehari-hari, yang dijanjikan pemerintah setempat.

Padahal, Pemerintah Kota (Pemkot) Palu sudah menganggarkan Rp28 miliar untuk penanganan korban bencana. Dari dana tersebut, pemerintah menjamin 12 item kebutuhan sehari-hari bagi para pengungsi. Ke-12 item itu berupa, ikan kaleng, ikan asin, telur, sayur mayur, gula, minyak goreng, teh celup, sabun mandi, sabun cuci, sikat gigi, pasta gigi, dan beras.

Namun, tidak semua pengungsi menerima bantuan yang disalurkan melalui Dinas Sosial (Dinsos) Kota Palu tersebut. Sebagian warga juga hanya menerima beberapa item selama berada di posko pengungsian.

Warga Palu, Agus Udin, mengakui bantuan yang diterimanya tak seberapa. Dia membangun tenda di lokasi bekas rumahnya yang terkena tsunami karena hidup di pengungsian tidak sesuai janji pemerintah.

Hal serupa diakui Ketua Posko pengungsian di wilayah Ova Pantoloan, kota Palu, Tamsil. Sejak menjadi ketua posko, bantuan yang masuk tidak sampai 12 item. Bantuan yang diajukan kepada pemerintah, berupa tenda pengungsi, sampai saat ini belum juga diberikan.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here