Kisah Tragis dr. Soeko Saat Terjebak Massa Anarkis di Wamena

dr.Soeko yang meninggal saat kerusuhan di Wamena, Senin (26/9). Foto: istimewa

Oleh: Achmad Syaiful

Indonesiainside.id, Jayapura Kepolisian Daerah Papua menjelaskan kronologi penyebab kematian dr. Soeko Marsetiyo (53), pahlawan kesehatan di pedalaman Papua. dr. Soeko meninggal dalam kerusuhan yang terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Senin (23/9).

Dalam keterangan pers di Mapolda Papua, Kamis (26/9), terungkap dr Soeko meninggal dunia akibat tindakan brutal massa anarkis yang berunjuk rasa. Polisi pun menemukan luka bacok  akibat sabetan senjata tajam pada bagian kepala yang diduga menjadi penyebab kematian sang dokter.

Bahkan, dr Soeko juga mengalami luka bakar. “Dugaan meninggal pada hari Senin, 23 September 2019, saat aksi anarkis. Ditemukan luka bacok di kepala dan luka bakar,”  terang Kamal saat menjelaskan kepada awak media di ruang Media Center Polda.

Mantan Wakapolresta Depok ini pun menceritakan, posisi jenazah dr Soeko saat ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di Wamena. Menurut keterangan saksi, dr Soeko dibunuh saat terjebak  dalam perjalanan ke Wamena dari tempat tugas pengabdian di Tolikara.

“Dari keterangan saksi, beliau meningggal di lokasi saat perjalanan dari Tolikara. Dia terjebak dalam situasi di Wamena, kemudian dieksekusi (bunuh) para pelaku kekerasan saat itu,” beber Kamal.

Sekretaris Dinas Kesehatan Papua dr Silwanus Sumule saat dihubungi dari Jayapura, Kamis, menuturkan, kepergian dr. Soeko menjadi duka bagi dunia kedokteran. Dia memastikan seluruh insan kesehatan di Papua akan memberikan penghormatan terakhir kepada dr Soeko sebelum jenazahnya akan dikembalikan ke pihak keluarga.

“Ini betul-betul menjadi duka untuk dunia kedokteran. Lepas dari semua persoalan yang ada, dalam pelayanan kesehatan kita tidak bicara politik, itu norma di dunia kesehatan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat kita tanpa memandang anda dari golongan mana, yang utama itu keselamatan pasien,”  tuturnya.

Silwanus mengaku, tidak mudah mencari seorang dokter yang bersedia ditugaskan di wilayah terpencil, seperti sosok dr Soeko. Apalagi dengan usia yang tidak muda lagi, seorang dokter biasanya sudah ingin merasakan kehidupan yang nyaman.

“Hal tersebut tidak berlaku bagi dr. Soeko yang terus bersikeras untuk tetap mengabdi di pedalaman Papua. Itu luar biasa, beliau mau mengabdi di daerah yang sulit di usianya sekarang 53 tahun. Biasanya orang sudah meminta di kota, dia masih meminta untuk bertahan di daerah yang terisolir,” kata

Sebelumnya diberitakan, ratusan pelajar sekolah menengah atas (SMA) menggelar aksi protes atas dugaan isu rasial yang dilakukan oleh oknum guru di wilayah Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Senin (23/9). Aksi protes berlangsung anarkis hingga berbuntut kerusuhan.

Polda Papua mencatat 31 orang meninggal dalam kerusuhan tersebut hingga Kamis (26/9). Sebagian besar korban meninggal karena terjebak dalam bangunan rumah maupun ruko yang dibakar. (Asi/PS/INI Network)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here