Hari Ini 1.500 Warga Berkumpul Minta Diungsikan dari Wamena ke Sentani

Pengungsi dari Wamena, Kabupaten Jayawijaya, diangkut menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU. Foto: Istimewa

Oleh: Azhar AP

Indonesiainside.id, Wamena – Kondisi masyarakat di Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Papua, semakin tidak menentu. Warga di sana meminta agar bisa segera diangkut melalui angkutan TNI AU dari Wamena ke Sentani.

TNI AU sudah mengangkut ratusan warga dari Bandara Udara Wamena ke Base Ops Lanud Silas Papare, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (27/9). Masih ada sekitar 1.500 warga yang mengungsi meminta segera diterbangkan karena takut dan trauma atas kerusuhan di Wamena pada Senin (23/9) lalu.

Kepala Detasemen TNI AU Wamena, Mayor PNB Arief Jadmiko mengatakan, sejak Selasa (24/9), TNI AU memberikan tumpangan gratis bagi warga yang hendak keluar dari Jayawijaya dan jumlah itu terus saja bertambah banyak.

“Diperkirakan jumlahnya sudah menurun pada tiga hari terakhir, tetapi kenyataannya sejak pagi tadi sudah berkumpul hampir 1.500 warga yang meminta keluar dari Wamena,” katanya di Wamena, Jumat (27/9).

Akibat kapasitas hercules yang hanya bisa memuat 160 hingga 170 orang sekali terbang, sebagian warga harus mengantri selama tiga hingga empat hari.

“Kapasitas angkutnya demikian, tetapi karena yang diangkut adalah anak-anak dan perempuan sehingga kita tidak terlalu memuat banyak, agar jangan sampai ibu yang membawa bayi terjepit,” katanya.

Dia mengharapkan Menteri Perhubungan membantu agar warga tidak kesulitan mendapat akses ke luar dari Jayawijaya.

“Kiranya ada keputusan untuk maskapai sipil bisa membantu, khususnya yang beroperasi di Wamena,” katanya.

Berdasarkan pantauan, sekitar ratusan warga memadati Bandara Kargo, bahkan ada yang mengaku sudah tiga hari menunggu giliran. Warga yang hendak mengungsi terdiri dari warga Papua maupun non Papua.

Di sisi lain, pihak TNI AU menindak oknum yang melakukan pemerasan terhadap pengungsi kerusuhan Jayawijaya, Provinsi Papua, yang hendak menggunakan jasa penerbangan Hercules.

Dia mengatakan TNI AU tidak memungut biaya dari warga yang hendak mengungsi dengan Hercules. “Kami sudah sampaikan bahwa tidak dipungut biaya, meskipun terus terang kami sudah dapat calo yang mengambil Rp500.000 hingga Rp1,5 juta per orang,” katanya

Ia mengatakan pungutan liar (pungli) itu terjadi di luar lingkungan detasemen. “Setiap hari kami sampaikan kepada warga bahwa ini bantuan angkutan udara untuk kemanusiaan, sehingga tidak dipungut biaya,” katanya. (Aza/Ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here