Nyalakan Lilin dan Kibarkan Bendera Setengah Tiang, IMM dan AMM Gelar Aksi Diam

aksi mahasiswa
Para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) menggelar aksi solidaritas di Jakarta, atas meninggalnya Muhammad Randi. Foto: Suandri Ansah/Indonesiainside.id

Oleh: Azhar AP

Indonesiainside.id, Solo – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bersama Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) se-Surakarta melakukan refleksi aksi diam di depan Markas Polresta Surakarta, Jumat malam (27/9).

Mahasiwa hanya menyalakan lilin sebagai bentuk solidaritas atas meninggalnya dua demonstran di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Ratusan mahasiswa tersebut duduk membentuk lingkaran di depan pintu masuk Mapolresta Surakarta. Kemudian mereka menghidupkan lilin.

Meghaphone yang biasa dipakai dalam aksi diletakkan di tengah-tengah lalu mahasiwa menaburkan bunga. Bendera merah putih dikibarkan setengah tiang sebagai bentuk belasungkawa dan solidaritas atas wafatnya demonstran korban tindakan represif aparat kepolisian.

Menurut Ketua Umum IMM Cabang Kota Surakarta Abdul Afif, penanganan peserta aksi oleh Polri sudah mengarah pada tindakan brutal dengan melakukan penembakan. Akibatnya menelan korban jiwa dari mahasiswa Universitas Halu Oleo dan pelajar di Jakarta.

Tindakan represif aparat kepolisian terhadap mahasiswa sangat bertentangan dengan Peraturan Kapolri, yaitu Nomor 8/ 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolsian RI, dan Perkapolri Nomor 16/ 2006 tentang Pengendalian Massa.

“Tindakan represif aparat di berbagai daerah telah melukai proses demokrasi di Indonesia dan tidak sesuai dengan amanah reformasi,” kata Abdul Afif.

Menurut dia, semangat reformasi masih terus mengalir sampai saat ini. Buktinya, mahasiswa kembali bersuara untuk menegakkan kembali amanah reformasi. Namun IMM kecewa atas tindakan tidak manusiawi yang dilakukan oknum tersebut.

Pada aksi refleksi yang dihadiri oleh ratusan peserta tersebut dimulai dengan Shalat Gaib, kemudian dilanjutkan dengan hening cipta, menyanyikan lagu gugur bunga, dan ibu pertiwi, dan diakhiri dengan aksi berdiam diri.

Massa aksi membentuk lingkaran dengan meghaphone, keranjang bunga, dan bendera yang dikibarkan setengah tiang berada di tengah lingkaran massa aksi. Meghaphone sebagai simbol alat perjuangan mahasiswa disandingkan dengan keranjang bunga.

Koordinator lapangan, Faudin, mengatakan bendera yang dikibarkan setengah tiang adalah penanda suasana duka mendalam bagi seluruh mahasiswa atas matinya keadilan di negeri ini.

“Kami mendesak pihak yang berwajib terutama Kapolri untuk mengusut tuntas pelaku penembakan dan segala bentuk represifitas aparat di berbagai daerah,” katanya.

Pihaknya mendorong untuk seluruh elemen mahasiswa tetap bersatu merapatkan barisan melawan segala bentuk ketidakadilan yang terjadi di Indonesia. Massa melakukan gelar refleksi aksi diam yang dimulai sekitas pukul 19.00 WIB hingga berakhir pukul 21.00 WIB dan kemudian membubarkan diri. (Aza/Ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here