Toleransi Beragama Bukan Berarti Toleransi Kebablasan

Muhammad Yusran Hadi
Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh Tgk Muhammad Yusran Hadi. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Ketua Majelis Intekektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Muhammad Yusran Hadi berpendapat, mengucapkan salam dengan salam semua agama selain Islam itu sama saja melakukan syirik dengan meminta keselamatan dan keberkahan kepada selain Allah SWT. Ini bertentangan dengan tauhid.

“Oleh karena itu, haram bagi seorang muslim memberikan salam dengan salam agama lain,” katanya, Jumat (15/11).

Menurut dia, mengucapkan salam dengan salam semua agama itu tidak diperintahkan dan tidak pula dilakukan oleh Rasululllah SAW. Begitu pula tidak dilakukan oleh para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in.

Dengan kata lain, mengucapkan salam dengan salam selain Islam merupakan bid’ah yang dilarang dan dikecam dalam Islam. Ia berpendapat, nengucapkan salam dengan ucapan salam agama lain sama saja saja mengamalkan ajaran agama tersebut.

“Ini dilarang dalam Islam. Islam melarang umatnya mengamalkan ibadah agama lain atau melakukan perbuatan yang menyerupai ibadah agama lain,” katanya.

Mengucapkan salam dengan salam Islam bagi seorang pejabat muslim bukan berarti tidak bersikap toleransi beragama atau kebhinekaan. Justru itulah sikap toleransi agama dan kebhinekaan.

“Toleransi agama tidak boleh dipahami dengan harus berbaur dan mengikuti ritual dan keyakinan agama lain. Ini toleransi yang kebablasan dan menyesatkan,” ujarnya

Menurutnya, toleransi agama adalah menghargai dan menghormati kebebasan dalam beragama dan menjalankan agamanya masing-masing. Toleransi beragama juga bermakna menerima perbedaan dalam beragama dan menjalankan agama sesuai dengan agamanya masing-masing.

“Inilah toleransi sebenarnya yang harus dijaga diamalkan oleh setiap pemeluk agama sesuai dengan ajaran Islam, pancasila dan UUD 1945,” katanya.

Ia berharap kepada umat Islam khususnya para pejabat muslim agar mematuhi para ulama, khususnya himbauan MUI Jawa Timur dalam masalah salam lintas agama. Karena ulama itulah yang lebih paham dan otoritas dalam berbicara persoalan agama.

“Setiap muslim wajib patuh kepada ulama sesuai dengan perintah Alquran dan As-Sunnah selama tidak melanggar syariat. Bila terjadi perselisihan dalam suatu persoalan maka kita diperintahkan untuk merujuk kepada Alquran dan As-Sunnah sebagaimana ditegaskan oleh Allah Swt dalam Alqur’an,” ujarnya. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here