Libatkan World Bank, Menag Godok Manajemen Pesantren

Menteri Agama, Fachrul Razi. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Kementerian Agama masih menggodok bidang pendidikan agama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk peningkatan kualitas pendidikan khususnya di pesantren. Hingga kini, Menteri Agama Fachrul Razi mengakui belum ada ide bersama yang disepakati.

Ke depan, jelas Fachrul, dia akan mengangkat manajemen pesantren yang akan bekerja sama dengan World Bank (Bank Dunia). Dia menyatakan, meski belum ada izin khusus, wacana ini nantinya akan berkembang.

“Tapi paling tidak komunikasi tetap dijaga. Kita juga banyak mengawasi banyak bidang-bidang pendidikan, punya sekolah ribuan pendidikan Islam, nanti kita bertukar pikiran,” kata Fachrul saat ditemui di kantor Kemenag, Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (9/12).

Baca Juga:  Anggaran Bantuan Pesantren dan Sekolah Islam Dicairkan 12 Agustus, Ini Besarannya

Dia berjanji bahwa pembahasan manajemen pesantren tidak berkaitan dengan isu radikalisme, namun lebih ke masalah pendidikan agama.

Sebelumnya, hasil tes Programme International Student Assessment (PISA) 2018 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) di Paris, Perancis, Selasa, menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, meraih skor rata-rata yakni 371, jauh dibawah rata-rata OECD yakni 487.

Kemudian untuk skor rata-rata matematika yakni 379, sedangkan skor rata-rata OECD 487. Selanjutnya untuk sains skor rata-rata siswa Indonesia yakni 389, sedangkan skor rata-rata OECD yakni 489.

Laporan OECD tersebut, juga menunjukkan bahwa sedikit siswa Indonesia yang memiliki kemampuan tinggi dalam satu mata pelajaran, dan pada saat bersamaan sedikit juga siswa yang meraih tingkat kemahiran minimum dalam satu mata pelajaran.

Baca Juga:  Perkuat Harmoni Masyarakat, Menag Minta Dialog Diintensifkan

Dalam kemampuan membaca, hanya 30 persen siswa Indonesia yang mencapai setidaknya kemahiran tingkat dua dalam membaca. Bandingkan dengan rata-rata OECD yakni 77 persen siswa.

Sedangkan untuk bidang matematika, hanya 28 persen siswa Indonesia yang mencapai kemahiran tingkat dua OECD, yang mana rata-rata OECD yakni 76 persen. Dalam tingkatan itu, siswa dapat menafsirkan dan mengenali, tanpa instruksi langsung, bagaimana situasi dapat direpresentasikan secara matematis. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here