Meningkat, Kasus Tuberkulosis Masih Menjadi Momok Kesehatan di Jayapura

Bakteri mikobakterium tuberkulosis. Foto: webmd

Indonesiainside.id, Jayapura – Dinas Kesehatan Jayapura mencatat 1.322 warga di Kabupaten Jayapura, Papua menderita Tuberkulosis (TB). Seribuan kasus ini ditemukan petugas kesehatan sejak awal 2019 hingga awal 2020. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Khariul Lie mengatakan, jumlah penderita TBC mengalami peningkatan. Tahun 2018, temukan kasus TBC mencapai 901 kasus dan meningkat pada 2019.

Temuan teranyar pada awal 2020 mencapai 300 kasus TBC. “Tahun 2019 ada temuan 1.022 kasus, sedangkan awal 2020 temuan 300 kasus TBC. Jadi dari awal 2019 hingga awal 2020, sudah 1.322 kasus,” terang Khairul, Jumat (14/2).

Menurut dia, temuan kasus TBC di Kabupaten Jayapura merata di seluruh distrik. Penyebaran TBC juga berasal dari warga luar yang berobat di Jayapura.”Kami setiap bulan menemukan kasus TBC dan warga luar yang berobat di Jayapura turut menyumbang angka kasus TB di wilayah ini,” katanya.

Khairul mengaku kesulitan memutus rantai penularan penyakit TBC di wilayah Jayapura. Salah satu faktor, tak patuhnya penderita TBC meminum obat secara rutin selama enam bulan. “Cukup berat mengeliminasi penyakit TBC ini, ada penderita yang putus obat, kemudian kami temukan dan mulai obati lagi dari awal,” tutur dia.

Faktor lainnya, perpindahan penduduk di Kabupaten Jayapura turut menjadi faktor penghambat dalam memutus rantai penularan TBC. Misalnya, warga luar yang berobat di Sentani tetapi harus kembali ke daerahnya, sementara pengobatan TBC membutuhkan jangka panjang.

“Kalau penduduk tetap mudah kami pantau, tetapi yang mobilisasi tinggi ini yang menjadi kesulitan kami. Kami tidak bisa tahan dia untuk 6 bulan berobat di Sentani,” kata Khairul.  Dia mengimbau seluruh warga menjaga sanitasi lingkungan dengan memastikan kamar dan ventilasi yang baik serta menutup mulut setiap kali bersin atau batuk. Langkah ini untuk menghindari penularan penyakit TBC.

“Sanitasi ini juga berpengaruh, terutama kebersihaan dan pencahayaan matahari. Kuman mudah mati di tempat yang bisa disinari matahari, sebaliknya kalau tempat dengan kelembaban tinggi dan sanitasi buruk, tingkat penularannya cukup tinggi,” beber Khairul. (PS)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here