Riset ITS: Pemimpin Suka Blusukan Bukan Favorit Masyarakat

Presiden Jokowi kala masih menjabat Gubernur DKI Jakarta menyempatkan diri meninjau gorong-gorong dan pompa air di depan Taman Semanggi. Foto: ist

Indonesiainside.id, Surabaya – Hasil riset yang dilakukan Tim Survei Pilkada Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Pusat Riset Pilkada Jatim JTV menyebutkan karakter pemimpin suka blusukan tidak jadi favorit bagi warga Kota Surabaya.

“Posisi pertama dari karakter pemimpin yang diinginkan oleh warga Surabaya untuk meneruskan kepemimpinan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini adalah sosok yang jujur. Pemimpin yang jujur ini mendapatkan skor 4.72,” kata Tenaga Ahli Tim Survei Pilkada ITS Surabaya Agnes Tuti Rumiati saat merilis hasil surveinya di JTV Surabaya, Jumat(14/2).

Sedangkan pada posisi kedua, lanjut dia, adalah mampu mengatasi masalah ekonomi dengan skor 4.4, dilanjutkan posisi ketiga mampu mengatasi masalah lingkungan dengan skor 4.33.

Lebih lanjut, hasil ini riset ini menjelaskan jika karakter pemimpin yang suka blusukan berada di posisi ke-10 dengan skor 4.04. Tepat berada di bawah karakter pemimpin dengan karakter berakhlak baik yang menduduki posisi ke-9 dengan skor 4.17 dan karakter pemimpin berwawasan luas di posisi ke-8 dengan skor 4.24.

Meskipun demikian, Tuti mengatakan jika masyarakat Surabaya masih sangat menghendaki karakter pemimpin seperti yang dimiliki Wali Kota Risma. “Karakter yang bagaimana? Ya pemimpin yang tegas, suka blusukan, merakyat, dan memahami kondisi di lapangan,” katanya.

Selain itu, kata dia, permasalahan keamanan di Kota Pahlawan menjadi perhatian besar bagi masyarakat Surabaya. Berada di posisi pertama masyarakat Surabaya masih mengkhawatirkan masalah keamanan, seperti maraknya begal atau pencurian.

“Ini skornya 3.85. Tapi, meski di posisi pertama, dengan skor di kisaran 3 ini berarti hanya dianggap masalah yang cukup ringan,” kata Tuti.

Pada posisi kedua, masalah sosial yang menjadi sorotan bagi warga Kota Surabaya adalah gelandangan dan pengemis. “Ini berada di posisi kedua dengan skor 3.92. Masih masuk kategori cukup ringan juga,” kata Tuti.

Kesuksesan penutupan Dolly yang dilakukan Wali Kota Risma ternyata juga berdampak pada perhatian masyarakat Kota Surabaya. Buktinya, keberadaan tempat praktik prostitusi di Kota Pahlawan masuk pada kategori sangat ringan pada hasil riset ini.

“Berada di 12 dengan skor 4.50. Masih berada di bawah masalah geng motor yang ada di urutan ke-9 dengan skor 4.23 dan konflik antarmasyarakat yang ada di urutan ke-7 dengan skor 4.19,” ujar Tuti.

Sebagai informasi, riset yang dilakukan kali ini menggunakan metode random sampling dengan 450 responden dengan margin of error sebesar 5 persen. (EP/ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here