Kepri Juga Tiadakan Salat Jumat di Masjid-Masjid

Jamaah salat zuhur berada di Masjid Istiqlal, Jakarta. Foto: Muhammad Zubeir/Indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Tanjungpinang – Seruan agar umat Islam tidak salat Jumat di masjid disampaikan juga kepada warga Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Masjid-masjid diminta tidak menyelenggarakan Salat Jumat hari ini, 27 Maret 2020.

Seruan serupa sudah dilakukan di beberapa daerah lain, khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Salat Jumat diganti dengan salat Zuhur di rumah masing-masing.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kepri meminta kepada pengelola masjid dan umat muslim untuk tidak menyelenggarakan salat Jumat. Sebagai gantinya, tetap wajib salat Zuhur di rumah.

Permintaan itu disampaikan MUI Kepri melalui tausiah tentang penyelenggaraan ibadah di masjid atau mushala berkaitan dengan situasi pandemi Covid-19. Dalam tausiah tersebut, Dewan Pimpinan MUI Kepri menyampaikan tujuh hal, yaitu:

1. Umat Islam harus meyakini secara aqidah bahwa Wabah Covid-19 ini adalah musibah dari Allah SWT, namun secara syariah kita diperintahkan berikhtiar untuk menghindarinya, dan secara akhlak kita harus saling menguatkan dan tolong menolong dalam menghadapi wabah ini.

2. Umat Islam agar dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah, taubat, istighfar, zikir dan membaca Qunut Nazilah di setiap salat fardu, memperbanyak shalawat, sedekah dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari musibah dan marabahaya (dafu al-bala ‘wal waba), khusus dari wabah Covid-19.

3. Meminta kepada pengelola masjid dan segenap umat Islam se Provinsi Kepri khusus Kota Batam, Kota Tanjung Pinang, Kabupaten Karimun, Kabupaten Bintan untuk tidak menyelenggarakan salat Jumat, sampai dengan Pemerintah menyampaikan kondisi telah kembali normal, sehingga para jemaah menggantinya dengan melaksanakan salat Zuhur di kediaman masing-masing.

4. Pengelola masjid dan musala di Provinsi Kepulauan Riau khususnya Kota Batam, Kota Tanjung Pinang, Kabupaten Karimun, Kabupaten Bintan tidak menyelenggarakan salat lima waktu secara berjamaah, namun muratal, tarhim dan azan tetap dikumandangkan sebagai syiar Islam. Sementara untuk jamaah diminta melaksanakan salat berjamaah di rumah masing-masing sampai dengan pemerintah menyatakan kondisi telah kembali normal.

5. Dalam hal muazin mengumandangkan azan sebagaimana poin 2 dan 3, ada tambahan kalimat yang bisa dilakukan dengan salah satu dari dua cara, yaitu, cara pertama: Selesai mengumandangkan azan sebagaimana biasa lalu ditambahkan kalimat Shollu fii rihalikum, disetujui Hadist Ibnu Umar dalam Shahih Bukhori No. 632 dan Shahih Muslim NO. 1633.

Cara Kedua: kalimat Hayya Ala sholah diganti dengan kalimat Shollu fii Buyutikum, sebagaimana Hadist Riwayat Ibnu Abbas dalam Shahih Bukhori No.901.

6. Tidak menyelenggarakan kegiatan keagamaan yang melibatkan orang banyak baik di masjid, musala dan atau tempat lainnya sampai dengan pemerintah menyatakan kondisi telah kembali normal.

7. Meminta seluruh umat Islam pada setiap salat fardu melakukan Qunut Nazilah, berzikir dan memperbanyak doa kepada Allah SWT.

Tausiah ini ditandatangani Wakil Ketua Umum MUI Kepri Bambang Maryono, Sekretaris Umum Edi Safrani, Dewan Pimpinan MUI Kota Batam, Dewan Pimpinan MUI Kota Tanjungpinang dan peserta Komisi Fatwa.

Edi Safrani, selaku Sekretaris MUI Kepri saat dikonfirmasi, membenarkan adanya tausiah tersebut.

“Iya. Kami telah mengeluarkan tausiah berkaitan dengan wabah Covid-19 ini,” ujarnya. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here