Stres Jadi Penyebab Banyaknya Napi Reaktif Covid-19 di Bali

(200615) -- BEIJING, 15 Juni, 2020 (Xinhua) -- Sejumlah petugas medis mengumpulkan sampel untuk tes asam nukleat di lokasi pengambilan sampel di Distrik Fengtai, Beijing, ibu kota China, pada 15 Juni 2020. Beijing pada Minggu (14/6) melakukan tes asam nukleat terhadap 76.499 orang, dengan 59 di antaranya teruji positif COVID-19, menurut sebuah konferensi pers yang digelar pada Senin (15/6). Hingga Senin pukul 06.00 waktu setempat, 193 lokasi pengambilan sampel telah didirikan di seluruh Beijing untuk memfasilitasi tes asam nukleat, ujar Gao Xiaojun, juru bicara komisi kesehatan kota tersebut. (Xinhua/Li Xin)

Indonesiainside.id, Denpasar – Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kemenkumham Bali Suprapto didampingi Kepala Sub Bagian Humas dan Reformasi, I Putu Surya Dharma, mengatakan, stres dapat menjadi pemicu banyaknya warga binaan pemasyarakatan (WBP) dan pegawai reaktif tes cepat Covid-19.

“Sebelumnya, ada 633 orang di Lapas Kerobokan dan 69 orang di Lapas Perempuan yang reaktif. Angka ini cukup banyak, karena memang ada beberapa penyebab, salah satunya bisa dipicu stres selama dalam tahanan, sehingga membuat imunitas tubuh jadi turun,” kata Suprapto saat dikonfirmasi di Denpasar, Jumat (23/10).
Ia mengatakan bahwa stres menjadi salah satu penyebab utama, sehingga imun menjadi turun. Kondisi stres memicu lemahnya imunitas seseorang, sehingga memunculkan sakit kepala, mungkin rasa sakit di dada dan lain sebagainya.
Suprapto menjelaskan banyak gejala yang dirasakan oleh warga binaan, ketika mereka sering mengeluh sakit kepala dan sebagainya.
“Saya lihat penyebabnya ketika mereka memikirkan masalah mungkin lamanya pidana, kasusnya apa mereka sudah tahu dampak-dampak seperti itu. Misalnya, kasus PP 99 mereka sampai saat ini mendapatkan remisi. Sebelum PP 99 direvisi, persyaratan yang mempersulit mereka itu menjadi beban terus selama dia masih dipidana, karena setiap tahun tidak pernah mendapatkan remisi, ini penyebab utama sebenarnya,” ucap Suprapto.
Selain itu, lanjutnya, kondisi tempatnya yang sempit dan menyebabkan warga binaan bergerak kurang leluasa, sehingga mengganggu kenyamanan untuk istirahat.
Menurutnya, penyebab lain sehingga muncul jumlah reaktif yang cukup banyak ini karena asupan nutrisinya kurang. “Kalau diberikan buah-buahan, mereka ada yang suka, ada yang enggak. Karena nutrisi itu lebih banyak bersumber dari buah-buahan,” katanya.
Suprapto mengatakan penyebab lainnya, yaitu terjadi dehidrasi atau biasanya kekurangan minum cairan di dalam tubuh, karena dibutuhkan cairan 60 persen dari seluruh tubuh, sebab tubuh membutuhkan cairan yang cukup banyak kalau mereka kurang minum jadi salah satu penyebab imun menjadi lemah.
Penyebab lain adalah kurang tidur dan kurang olahraga. Dominan warga binaan mengalami susah tidur. Ketika sudah kurang tidur pasti akan berdampak pada kesehatan, seperti tensi naik. Sehingga, setelah dilakukan tes cepat Covid-19 banyak ditemukan reaktif.
Sebelumnya, tercatat ada 627 orang reaktif setelah dilakukan tes cepat Covid-19 di Lapas Kerobokan dan 69 orang reaktif di Lapas Perempuan. Dari keseluruhan, 65 di antaranya warga negara asing (WNA) dan satu napi korupsi I Ketut Sudikerta (mantan Wakil Gubernur Bali). (Aza/Ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here