Nasir Djamil ke Presiden Jokowi: Jangan Dilema, Perppu KPK Terbit atau Tidak?

Anggota DPR RI Nasir Djamil. Foto: Istimewa

Oleh: Eko P

Indonesiainside.id, Jakarta – Anggota DPR RI Nasir Djamil meminta Presiden Joko Widodo jangan sampai dilema terkait undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terkait apakah mengeluarkan perppu atau tidak

“Persoalan UU KPK jangan sampai berlarut-larut. Presiden jangan dilema soal ini. Kalau terbitkan perppu silakan, kalau tidak juga tidak apa-apa,” kata HM Nasir Djamil di Banda Aceh, Rabu (9/10).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyebutkan, persoalan UU KPK di DPR sudah selesai. DPR sudah menyetujui pengesahan UU KPK tersebut.

Kini, lanjut HM Nasir Djamil, tinggal lagi keputusan Presiden apakah mengesahkan UU KPK atau mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang atau perppu.

“Masalah ini merupakan hak Presiden. Kalau Presiden ada hal penting dan genting bisa mengambil langkah dengan menerbitkan perppu. Kalau menerbitkan perppu tentu ada konsekuensinya,” imbuhnya.

Penertiban perppu biasanya dilakukan tiga bulan atau satu masa persidangan DPR RI. Sebelum diterbitkan oleh Presiden RI, perppu harus mendapat persetujuan atau tidak oleh DPR RI.

“Kalau pun Presiden tidak mengeluarkan perppu, juga harus dijelaskan kepada elemen masyarakat, terutama yang mendesak dikeluarkannya perppu UU KPK, sehingga persoalan ini menjadi jelas,” katanya.

Terkait dengan RUU KUHP, Anggota Komisi III DPR RI 2014-2019 itu menyebutkan, pengesahan rancangan undang-undang tersebut sudah diputuskan ditunda.

“Penundaan ini setelah memahami aspirasi masyarakat, termasuk mahasiswa. Penundaan tersebut diputuskan dalam sidang terakhir DPR RI 2014-2019,”tegasnya.

Nasir Djamil menyebutkan, DPR RI 2019-2019 memungkinkan mengambil alih RUU KUHP. Dam ini diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan.

“Ambil alih juga ada ketentuan. Kalau pembahasan di atas 50 persen, maka tinggal dilanjutkan DPR. Kalau belum, maka pembahasannya harus diulang,” ujarnya.

Kalau pembahasan diulang, lanjut mantan Anggota DPRD NAD itu, menjadi tugas pemerintah. Sebab, RUU KUHP merupakan inisiatif eksekutif atau pemerintah.

“Karena itu, kami meminta pemerintah segera mengambil sikap menyelesaikan persoalan RUU KUHP. Kalau memang dibahas ulang, pemerintah harus mengajak semua komponen masyarakat,” tuturnya. (EP/Ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here