Yudi Latif Paparkan Modal Sosial Kunci Pembangunan Nasional

Cendikiawan Muslim, Yudi Latif, dalam acara 'Misa Awal tahun & Silaturahmi Kebangsaan' yang digelar di Gedung Sanggar Prathivi, Pasar Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (18/1). Foto: Muhajir/Indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta – Cendekiawan Muslim, Yudi Latif, menilai pembangunan bangsa tidak cukup hanya dengan modal finansial, keterampilan, maupun modal Sumber Daya Alam. Negara seluas dan semajemuk Indonesia yang paling utama diperkuat adalah modal sosial (social capital).

Selama ini, kata dia, masyarakat Indonesia masih sering bertengkar untuk hal-hal yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan modal sosial. Perbedaan merupakan takdir yang tidak bisa ditolak, apalagi dilawan. Maka, perbedaan itu harus dirajut di bawah naungan pancasila.

“Seluruh sila dalam pancasila itu menggambarkan Indonesia dari semua asal-usul,” kata Yudi Latif dalam Silaturahmi Kebangsaan yang diadakan Vox Point Indonesia (VIP) di Jakarta, Sabtu (18/1).

Dia menjelaskan, sila pertama menggambarkan Indonesia dari latar keberagaman agama. Sila kedua menggambarkan asal-usul rasial. Sila ketiga menggambarkan Indonesia dari segi adat dan budaya. Sila keempat menggambarkan partai politik yang begitu banyak. Sila kelima menggambarkan Indoensia dari berbagai lapisan sosial.

Atas dasar itu dia mengingatkan bahwa modal pembangunan nasional tidak bisa hanya bermodal finansial, keterampilan, dan Sumber Daya Alam, tapi paling penting adalah modal sosial. Indonesia tidak akan sejahtera jika modal sosial itu sobek.

“Modal genius manusia itu tidak akan bekerja jika modal sosial robek,” ujar dia.

Dia mengatakan, modal sosial itu ada tiga. Pertama adalah konektivitas, yakni bersambungnya rasa antara elemen bangsa. Kemudahan teknologi dam transportasi saat ini harus dimanfaatkan untuk mencapai konektivitas itu.

“Jadi tidak cukup dengan ketersambungan fisik, tapi harus ketersambungan pikiran dan hati. Maka itulah pentingnya saling bertemu, tidak hanya sebatas whatsapp. Kita harus berjumpa. Di dalam perjumpaan fisik itulah kita akan saling melihat mimik, senyum,” ujar dia.

Hal paradoks yang terjadi pada generasi milenial saat ini adalah secara teknis terhubung, tapi tidak kadang kala hati dan pikiran saling berjauhan. Meskipun secara teknis terkoneksi tapi jika hati dan pikiran terpisah maka akan menimbulkan rasa saling benci.

Hal itu dikarenakan konektivitas teknis terblokade oleh tidak bersatunya pikiran dan hati. Maka itu, dalam kontes inter-connectivity pikiran harus dibuka dengan cara saling bertemu.

Modal sosial kedua adalah inklusivitas, yakni kesetaraan akses bagi seluruh anak bangsa pada hak usaha dan Hak untuk bekerja. Negara harus memiliki kebijakan yang memayungi hak semua warga negara. Tidak boleh sektor usaha didominasi secara ekslusif oleh kalangan tertentu. Begitu juga hak untuk masuk ke jabatan publik.

“Tidak boleh ada eksklusivitas dalam penguasaan aset, penguasaan ekonomi, sekolah ekslusif, dan lain sebagainya,” ujar dia.

Ketiga adalah modal integritas. Setiap warga negara harus saling menjaga dan mengembangkan perilaku etis yang membuat saling percaya (mutual trust). Yudi mengatakan, kepercayaan di antara anak bangsa tidak akan terbangun selama tidak menjunjung tinggi prinsip-prinsip keadaban.

“Masalahnya kita sekarang, pemimpin tidak percaya dengan rakyat, dan rakyat tidak percaya pada pemimpin,” ujar Yudi Latif. Jika tiga modal sosial ini bisa dibangun oleh pemerintah maka Indonesia bisa maju dan sejahtera.(EP)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here