Politikus Demokrat: Transportasi Boleh tapi Mudik Dilarang Sama Ganjilnya Dengan Boleh Nongkrong di Kloset tapi Dilarang….

Calon penumpang mengantre sebelum pemberangkatan di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (15/5/2020). Antara Foto/Fauzan

Indonesiainside.id,Jakarta – Pernyataan Presiden Joko Widodo bahwa yang dilarang adalah mudik, tapi transportasi tidak, menuai kontroversi di masyarakat. Pernyataan itu menuai kritik karena dinilai tidak sejalan dengan upaya pemutusan rantai Covid-19 dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Politikus Demokrat Rachland Nashidik juga mengaku bingung dengan pernyataan tersebut.

“Pak Jokowi, transportasi boleh tapi mudik tidak itu sama ganjilnya dengan boleh nongkrong di kloset tapi dilarang berak,” katanya di akun resminya, Selasa(19/5).

Sebelumnya, pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, juga berpendapat kebijakan presiden sangat aneh. Mudik dilarang, namun transportasi dibolehkan itu ganjil sebab, orang-orang berpergian pasti menggunakan transportasi.

“Maksud saya, yang enggak boleh mudik tapi transportasi boleh, ya kan aneh saja. Orang justru pergi itu pakai transportasi, maka justru transportasi itu yang harus dikendalikan,” kata Agus.

Senada, Wakil Ketua Majelis Permusyawaran Rakyat (MPR) RI Lestari Moerdijat juga meminta pemerintah konsisten dan tidak bersikap ambigu dalam penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), khususnya menjelang Lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah. Kondisi seperti ini justru membingungkan sebagian masyarakat.

“Terjadi pemandangan yang memprihatinkan menjelang Lebaran ini. Pemerintah menegaskan belum ada pelonggaran kebijakan, tetapi keramaian dan kerumunan orang terus saja terjadi,” ujar dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa(19/5).

Laporan berbagai pihak, kata dia, menyebutkan sejumlah tempat, seperti ruas jalan dan pasar semakin ramai di tengah wabah Covid-19.

Menurut Rerie, kalau memang belum ada pelonggaran kebijakan, pihak aparat yang berwenang seharusnya bisa langsung menertibkan.

Namun kenyataannya, jelas Rerie, sejumlah tempat termasuk ruas jalan di Jakarta mulai dipadati kendaraan, seperti Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.(EP)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here