Pilkada Surabaya, Sekjen PDIP “Serang” Paslon Machfud Arfin-Mujiaman Soal Mobil Mewah

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto. Foto: Istimewa
Indonesiainside.id, Surabaya – Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengingatkan bahwa kampanye yang ditunjukkan oleh Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya, Machfud Arifin dan Mujiaman, dengan memanfaatkan mobil mewah justru merendahkan martabat warga Surabaya.
Hasto Kristiyanto dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu, menegaskan bahwa politik itu membangun peradaban, menebar kebaikan, dan berpihak kepada yang wong cilik.
“Apa yang dipertontonkan oleh pasangan Machfud-Mujiaman dengan menampilkan Hummer, Limousine, Porsche putih, dan berbagai atraksi membagi logistik secara masif, justru merendahkan martabat rakyat Surabaya,” kata dia.
Strategi kampanye mereka menurut Hasto salah, dirinya menilai rakyat Surabaya merupakan masyarakat pejuang.
“Punya harga diri, dan tidak mudah silau oleh tampilan kampanye dengan mobil super mewah,” kata Hasto.
Dia mengajak seluruh elemen untuk mewujudkan tampilan kampanye yang simpatik, mencerdaskan, dan berakar kuat pada kebudayaan bangsa.
“Bu Risma telah menjawab kebutuhan masyarakat Surabaya dengan mempersiapkan Eri-Armudji. Kesinambungan kepemimpinan inilah yang paling penting untuk Surabaya bagi Indonesia dan dunia,” katanya.
Pilkada Kota Surabaya semakin dinamis dengan suhu politik yang semakin memanas. Menurut Hasto naiknya elektoral Eri-Armudji semakin menunjukkan kehandalan pasangan tersebut.
Survei terakhir elektoral Eri-Armudji sudah menunjukkan 10,2 persen di atas Machfud Arifin-Mujiaman. Dampaknya, berbagai tekanan dan intimidasi terjadi.
“Terakhir Bu Risma sendiri digugat dan dilaporkan ke polisi. Tidak hanya itu, berbagai bentuk intimidasi ke tim pendukung paslon nomor 01 (Eri-Armudji) juga terjadi,” ucapnya
Atas laporan tersebut, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto meyakini bahwa masyarakat Surabaya tidak mudah tunduk pada berbagai intimidasi.
“Arek-arek Surabaya itu kokoh memegang prinsip. Apa yang terjadi pada peristiwa Hari Santri tanggal 22 Oktober 1945 dan peristiwa Hari Pahlawan 10 November, menunjukkan kuatnya semangat patriotisme yang digelorakan oleh semangat hubbul wathan minal iman,” katanya.
Jadi, lanjut dia berbagai bentuk tekanan yang ditujukan ke Eri-Armudji, Risma dan beberapa pendukungnya tidak akan efektif.
“Mereka akan berhadapan dengan rakyat Surabaya yang selalu membela yang benar,” ujarnya. (ant/msh)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here